Bab 1
Nara Lintang tak pernah menyangka bahwa hubungan jarak jauh lintas negara yang akan segera berakhir justru menutup kisahnya dengan akhir yang begitu pahit dan memalukan.
Bagaimanapun juga, cinta Reza Perdana kepadanya adalah sesuatu yang tak tertandingi.
Dia adalah direktur rumah sakit yang sibuk. Namun demi Nara, dia menempuh hampir sembilan ratus penerbangan ke luar negeri, bolak-balik dengan total waktu terbang mendekati sepuluh ribu jam.
Meski setiap pertemuan selalu singkat dan terburu-buru, Reza tetap memeluknya erat dan berkata dengan suara rendah bahwa semua itu dia jalani dengan sepenuh kerelaan.
Hadiah yang Reza kirimkan kepadanya pun tak terhitung jumlahnya.
Dari yang kecil seperti surat cinta tulisan tangan sepanjang ribuan kata, hingga yang besar seperti kalung bernilai miliaran yang dia menangkan di balai lelang.
Selama dia merasa sesuatu itu bisa membuat Nara tersenyum, dia akan mempertaruhkan segalanya untuk meraihnya sekalipun itu adalah bintang di langit.
Cinta yang terukir hingga ke sumsum tulang itu tak pernah berubah sedikit pun selama tiga tahun penuh.
Namun, ketika Nara pulang ke tanah air dengan penerbangan semalaman, lalu mendengar teman-teman masa kecil mereka memuji betapa setianya cinta Reza kepadanya, Reza justru membantahnya dengan suara serak ...
Nara harus mengakui bahwa saat itu, hatinya seolah dicabik ribuan pisau, dan rasa sakitnya tak ubahnya hukuman yang dijalani perlahan, irisan demi irisan.
Suara Reza tidak keras, namun cukup untuk membuat ruang privat itu tenggelam dalam keheningan total.
Lama berlalu sebelum seseorang akhirnya memecah suasana dan tertawa kaku. "Reza, kamu cuma bercanda, 'kan?"
"Kamu dan Nara dulu pasangan paling dikagumi di kampus. Waktu kamu mengantar Nara pergi ke luar negeri, kamu sampai menangis diam-diam di belakangnya seperti anak kecil. Selama tiga tahun ini pun kamu nggak pernah absen, hujan atau badai tetap terbang ke luar negeri hanya untuk bertemu dengannya ... "
Temannya terkekeh canggung, lalu bertanya dengan nada dilebih-lebihkan, "Mana mungkin perasaan itu tiba-tiba hilang?"
"Aku juga nggak tahu," ujar Reza dengan nada yang datar.
Pria yang selama ini selalu tenang dan sulit digoyahkan itu kini tampak kebingungan. "Yang kurasakan hanya satu. Tiga tahun ini terasa sangat melelahkan."
"Setiap kali meluangkan waktu untuk menemuinya, memang ada rasa senang. Tapi yang lebih sering kurasakan justru kesepian dan letih selama belasan jam perjalanan pulang-pergi."
"Memberinya hadiah pun harus terus dipikirkan. Mencari hal baru, menebak-nebak apakah dia akan menyukainya, apakah dia akan bahagia saat menerimanya."
Reza, yang tangannya terbiasa menggenggam pisau bedah, kini memegang gelas kaca dengan jemari yang tegas. Dia menatap pantulan cahaya di dalamnya, lalu berkata pelan, "Aku masih mencintainya. Hanya saja ... cinta ini rasanya hampir terkuras habis."
Teman-teman masa kecil mereka saling berpandangan, lalu dengan kaku mengalihkan pembicaraan.
Sementara Nara, pikirannya langsung kosong seketika, dan dengung tajam memenuhi telinganya.
Padahal seharusnya itu adalah malam penuh kejutan, namun Nara bahkan tak lagi ingat bagaimana dia melangkah pergi dengan hati-hati, dan diam-diam meninggalkan tempat itu.
Dalam benaknya sempat terlintas pikiran, andaikan dia tidak pulang lebih awal, mungkin segalanya akan terasa lebih baik.
Mungkin dengan begitu, dia masih bisa menutup mata dan berpura-pura bahwa hubungan mereka tetap utuh dan indah seperti semula.
Namun di dunia ini, tak pernah ada kata "andai".
Saat pikirannya melayang tanpa arah, ponsel yang tadi senyap tiba-tiba bergetar.
Nara mengangkat kepala dan melihat Reza yang entah sejak kapan sudah berdiri di area terbuka, mengernyitkan dahi, pandangannya menyapu sekeliling dengan gelisah.
Jantungnya menegang seketika. Nara segera bergeser ke bawah rindangnya pepohonan yang remang, menatap layar ponsel cukup lama sebelum akhirnya menjawab dengan tenggorokan yang terasa tercekat.
Napas Reza terdengar sedikit terburu-buru. [Sayang, aku baru lihat pesanmu sekarang. Kamu pulang lebih awal? Kamu di mana? Kamu ke Bar Serene cari aku?]
Suara Reza yang begitu dikenalnya, bercampur dengan desis sambungan telepon, menghantam telinga Nara hingga dadanya terasa sesak dan matanya perih tanpa sebab.
Ada begitu banyak hal yang ingin dia tanyakan. Namun pada akhirnya, yang keluar hanyalah kalimat singkat yang ditahan dari tangis, "Aku mendadak berubah pikiran, jadi aku pulang duluan ke rumah ... kamu pulang jam berapa?"
Mendengar itu, kerisauan di wajah Reza akhirnya mereda. Dengan suara rendah, dia berkata, [Aku pulang sekarang ... ]
Ucapannya bahkan belum selesai ketika seorang gadis bersyal merah sudah berlari mendekat dan masuk begitu saja ke pelukan Reza.
Nara menyaksikan semuanya tanpa bisa berpaling. Reza spontan menutupi ponselnya, lalu senyum hangat muncul di wajahnya dan jemarinya mengacak rambut gadis itu dengan penuh keakraban.
Jawabannya pun langsung berubah, tenang dan singkat, [Sekarang aku masih ada urusan. Tunggu aku.]
Rona di pipi gadis itu tertangkap oleh mata Nara.
Seketika, kepalanya terasa berputar dan tubuhnya diliputi rasa dingin.