Bab 2
Gadis itu bernama Cyntia Bramanti, seorang dokter magang di bawah pimpinan Reza.
Awalnya, setiap kali Reza menyebut namanya di hadapan Nara, yang keluar hanyalah keluhan, seperti Cyntia terlalu ceroboh, terlalu penakut, bahkan sering salah memberi obat pada pasien.
Namun kemudian, saat Reza terbang ke luar negeri untuk merayakan ulang tahun Nara, malam itu justru dia habiskan menelepon Cyntia, membahas berbagai kasus medis hingga larut.
Setelah panggilan berakhir, Reza masih tersenyum sambil memuji Cyntia. Katanya dia rajin belajar, cepat berkembang, dan menyenangkan.
Nara menatap lilin yang telah padam, lalu meminta dengan suara pelan agar topik itu dihentikan.
Senyum Reza memudar seketika. Dia terdiam sesaat, lalu menjawab singkat, "Baiklah."
Setelah itu, Nara pernah bertanya tentang Cyntia tanpa maksud apa pun. Reza hanya berkata bahwa dia sudah tidak berhubungan lagi dengan Cyntia.
Namun Nara tahu, dia berbohong.
Malam itu, hujan turun perlahan. Nara pulang ke rumah dengan pakaian yang lembap menempel di tubuhnya.
Dia memasukkan sandi yang sudah dihafalnya di luar kepala yaitu tanggal saat dia dan Reza mulai bersama.
Reza belum pernah menggantinya, dan pintu terbuka begitu saja.
Kehangatan lantai berpemanas menyambut dari dalam rumah. Pandangan Nara tertuju ke lemari kaca di tengah ruang tamu.
Dia berdiri di sana lama sekali tanpa berkedip. Dadanya mengeras, lalu tiba-tiba air mata jatuh tanpa bisa ditahan.
Di dalam lemari kaca itu, lampu kuning hangat menyinari setumpuk tebal tiket pesawat pulang-pergi.
Setiap tiket itu diberi nomor urut. Jumlahnya 988 lembar.
Reza pernah dengan bangga memotretnya dan berkata, itulah bukti cintanya.
Dia bahkan berjanji, begitu jumlahnya genap seribu, Nara pasti sudah pulang ke tanah air.
Saat itu, dia akan langsung melamarnya agar mereka bisa bersama selamanya, tanpa berpisah lagi.
Detak jantung Nara kian terasa berat. Kenangan tentang hari-hari yang dia lalui sendirian di negeri orang menghantamnya tanpa ampun.
Demi menyelesaikan studi lebih cepat, dia menghabiskan hampir seluruh waktunya di perpustakaan.
Dia tak punya waktu untuk berteman. Pernah pula dia diejek membosankan, namun dia tak pernah peduli. Pikirannya hanya satu yaitu secepat mungkin kembali ke sisi Reza.
Di tengah penyelesaian skripsinya, Nara sempat jatuh sakit karena kelelahan. Namun dia menyembunyikannya dan tak pernah mengeluh. Dia meminum obat penurun panas seperti rutinitas biasa, lalu tetap tersenyum seolah tak terjadi apa-apa dan mengatakan pada Reza bahwa dia juga merindukannya.
Namun ketika akhirnya dia pulang ke tanah air seperti yang selama ini diimpikannya, kenyataan justru menyambutnya dengan dingin. Semuanya terasa sudah terlambat.
Pada akhirnya, cinta Reza telah berubah.
...
Reza pulang dan mendapati Nara setengah berlutut di lantai, tubuhnya bergetar hebat karena menangis.
Dia langsung mengernyit, melangkah mendekat hendak memeluknya, dan dengan cemas menanyakan apa yang terjadi.
Namun Nara mendorongnya menjauh.
Dia memejamkan mata sejenak, mengepal tangannya erat-erat, dan berusaha keras menahan diri. "Tadi ... saat kita menelepon, aku seperti mendengar suara Cyntia."
Suaranya pelan, seolah dia sedang mengerahkan seluruh tenaganya. Napasnya bergetar beberapa kali sebelum dia melanjutkan, "Kenapa kamu masih bertemu dengannya larut malam begini?"
Usai berkata demikian, Nara menatap lurus ke mata Reza yang gelap.
Di sana ada sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Dingin, berjarak, dan kelelahan yang teramat dalam.
"Haruskah kamu membicarakan hal-hal seperti ini sekarang?"
Reza berdiri tegak, menjaga jarak yang tidak dekat namun juga tidak sepenuhnya jauh. Suaranya terdengar dingin. "Kami hanya kebetulan bertemu. Dia cuma rekan kerja biasa, bukan seseorang yang seperti kamu bayangkan."
Kalau memang hanya rekan kerja, lalu kenapa pelukannya begitu mesra?
Namun pertanyaan itu belum sempat terucap karena Reza sudah memperlihatkan sebuah kotak perhiasan dan kue cantik berbalut beludru yang diletakkan di belakangnya.
Benda itu dia ambil sendiri, menembus cuaca dingin.
Nara terdiam. Dadanya terasa dihantam berkali-kali, perih dan hangat bercampur jadi satu dan sulit dibedakan.
Namun kemudian suara Reza kembali terdengar, dingin dan kaku.
"Cyntia itu gadis yang baik. Kamu nggak seharusnya menilainya dengan prasangka buruk seperti itu"
"Dia mandiri. Dia bisa seharian penuh berada di laboratorium. Nggak seperti kamu, sedikit lelah saja sudah mengeluh padaku."
"Dia juga rasional, nggak mencampuradukkan perasaan. Bukan seperti kamu, yang suka curigaan."
"Aku dan dia sangat kompak. Di ruang operasi, dia selalu paham apa yang kubutuhkan dan bekerja sama denganku."
Pada akhirnya, Reza menekan bibirnya rapat. "Nara, aku masih mencintaimu. Tapi kalau kamu terus bersikap seperti ini, aku juga manusia. Aku bisa lelah."
Hadiah itu dia lempar begitu saja ke dalam tempat sampah.
Kue krim putih yang semula cantik hancur tak berbentuk.
Persis seperti hubungan mereka yang indah di luar, namun runtuh dan berantakan di dalam.