Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 4

Tidak akrab. Dua kata itu seperti pedang tajam yang menancap tepat di hati Nara, membuatnya seakan remuk berkeping-keping. Tanpa sadar, dia tersenyum pahit. Ya, memang tidak akrab. Hanya orang asing yang sudah bersama selama sepuluh tahun dan pernah berjanji untuk menua bersama, tapi kini terasa seperti tak dikenal. Sementara itu, Cyntia yang mendapat jawaban itu justru tampak berseri-seri. Matanya yang cerah memancarkan ketergantungan dan malu khas gadis muda. Dia perlahan berjinjit dan mendekatkan bibir merahnya yang beraroma harum ke arah Reza. Nara melihat semuanya dengan jelas. Reza sebenarnya tidak perlu mundur. Dia cukup menoleh sedikit saja untuk menjaga jarak dengan sopan. Namun dia tidak melakukannya. Bibir Cyntia menempel di rahang Reza yang tegas dan tegar. Keintiman itu begitu menggoda dan ambigu. Hati Nara terasa seperti diremukkan oleh mesin penghancur, tak bersisa, dan terjatuh ke dalam neraka. Nara bahkan tidak ingat bagaimana dia turun dari gedung itu. Hingga ponselnya bergetar, dan panggilan dari Reza masuk. Suara pria itu terdengar kaku. [Kamu sudah sampai? Tadi ... kamu nggak melihat apa pun, 'kan?] "Kamu takut aku melihat sesuatu?" Nara bertanya pelan, dan air mata mengalir ke sudut bibirnya. Rasanya asin dan getir. Rasa yang paling dia benci. Dia sungguh tidak mengerti apakah ini yang disebut peduli? Jika memang peduli, mengapa memilih berkhianat? [Tentu saja nggak.] Karena rasa bersalah dan kepanikan, Reza tidak menyadari bahwa suara perempuan di seberang telepon sudah sepenuhnya hampa. Dengan nada dibuat ringan, dia berkata, [Kalau begitu cepat naik. Bukankah masih ada yang ingin kamu bicarakan denganku?] "Nggak jadi." Helaan napas Nara membentuk kabut putih di udara. Dia bergumam lirih, "Sepertinya, hal itu sudah nggak penting lagi untukmu." Setelah itu, dia menutup telepon, mengabaikan suara Reza yang terkejut dan mulai marah. ... Hubungan yang berlangsung sepuluh tahun ternyata membutuhkan usaha luar biasa untuk benar-benar dibersihkan. Hanya untuk mengemas perhiasan mahal, pakaian pasangan, serta kamera instan, sudah dibutuhkan dua koper besar. Barang-barang yang dahulu dia bawa pulang dari luar negeri dengan harapan untuk menata masa depan bersama, kini semuanya dia sumbangkan kepada lembaga amal. Setelah petugas donasi pergi dengan senyum puas, Nara melangkah ke depan lemari kaca. Kacanya bening tanpa noda, menandakan betapa pemiliknya pernah menjaganya dengan sepenuh hati. Dia membuka lemari itu, lalu satu per satu mengambil tumpukan tiket di dalamnya. Lembar pertama bertanggal 6 Maret 2023. Pertemuan singkat pertama justru terasa seperti pengantin baru. Pada malam itu, di apartemen bernuansa romantis, mereka melangkah bersama ke fase paling intim dalam hubungan mereka. Tubuh Reza hangat membara, keringat menetes di pelipis, namun dia tetap menahan diri, mengendalikan hasrat dengan hati-hati, dan terus menenangkan Nara dengan suara lembut. Tiket ke-10 bertanggal 7 April 2023. Hanya dalam selang satu bulan, Reza terbang sepuluh kali. Saat itu Nara jatuh sakit karena tidak cocok dengan iklim setempat. Reza panik dan langsung menukar jadwal dengan rekan kerjanya, bolak-balik ke luar negeri tanpa ragu. Pada masa itu, pria yang terkenal rapi dan perfeksionis itu membiarkan dagunya dipenuhi janggut tipis, mata merah karena kurang tidur, namun tak sekali pun dia mengeluh lelah. Tiket ke-450 bertanggal 1 Februari 2024. Itu adalah tahun baru pertama mereka di negeri orang. Malam pergantian tahun diselimuti cuaca dingin di luar, dan api perapian menyala hangat di dalam. Di luar jendela, kembang api berkilauan memenuhi langit, sementara di dalam ruangan, mereka saling melekat erat, tak terpisahkan. Tiket ke-700 ... Kenangan demi kenangan berkelebat tanpa henti, dan saat itulah Nara tersadar, tak satu pun dari semua itu pernah benar-benar dia lupakan. Sepuluh tahun telah terpatri terlalu dalam, melekat hingga ke hati. Namun kini, semuanya harus dipisahkan secara kejam, sedikit demi sedikit, menyisakan rasa perih yang tak terelakkan. Lembar-lembar yang menjadi saksi waktu dilemparkan ke dalam api. Api itu segera padam, dan bersama dengannya, sisa kehangatan ikut lenyap. Di antara abu yang tersisa, bayangan dua kota yang saling terhubung masih samar terlihat. Kota Aruna dan Negara Meliora ... Jaraknya sejauh langit dan bumi. Hati Nara terasa seperti direnggut separuhnya. Tenggorokannya tersumbat rasa sesak, seakan dipenuhi kapas yang mengembang. Ada ribuan kesedihan yang ingin dia teriakkan, namun tak satu pun mampu keluar. Reza. Antara aku dan kamu, semuanya telah berakhir. Tak ada lagi ikatan, tak ada lagi utang perasaan.

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.