Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 5

"Bagaimana bisa jadi seperti ini?" Setelah mendengar Nara menceritakannya dengan nada datar, sahabatnya menepuk meja dengan kesal. Lalu dia mendekat dengan wajah penuh cemas dan mencoba menenangkan, "Nara, jangan sedih lagi." Namun Nara hanya menggeleng pelan. Saat hati sudah mati rasa, tak ada lagi air mata yang perlu ditahan. Justru sang sahabat yang lebih dulu runtuh. Sambil terisak, dia menenggak minuman tanpa henti. "Dari mana Reza dapat keyakinan kalau kamu nggak akan pergi?" "Bahkan aku tahu sifatmu. Kamu lebih baik mati terhormat daripada hidup hina." "Memang sudah sepantasnya pria itu merasakan bagaimana rasanya kehilanganmu sepenuhnya! Soal kampus barumu, dia belum tahu, 'kan? Aku berani bersumpah, saat dia nggak bisa menemukanmu nanti, dia pasti menyesal setengah mati!" Kalimat itu belum benar-benar berakhir ketika tubuhnya ambruk di meja bar, meninggalkan Nara terdiam. Akankah Reza benar-benar menyesal? Tak lama kemudian, kekasih sahabatnya datang menjemput. Nara membayar tagihan, lalu pergi sendirian. Baru saja berbalik, dia malah bertemu dengan teman lama Reza. Tatapan orang itu langsung berbinar, dan dia langsung mencengkeram lengan Nara. "Kak, cepat bujuk Reza. Dia sudah kebanyakan minum!" Belum sempat Nara menolak, dia sudah diseret masuk ke ruang privat. Di dalam, terdengar tawa canda yang riuh. "Cyntia kalah lagi! Hukumannya cari lawan jenis secara acak untuk dicium. Siapa yang akan kena, ya?" Dengan sorot mata yang berkaca-kaca, setengah memelas, setengah manja, Cyntia mendekat ke arah Reza, suaranya lembut dan memohon, "Dokter Reza, apa kamu mau menolongku?" Kerah kemeja Reza terbuka sedikit, sudut matanya memerah karena alkohol. Minuman itu membuat pikirannya melambat. "Apa?" Saat kesadarannya mulai kembali, dia hendak menggeleng, berniat menghentikan candaan teman-temannya. Namun wajah Cyntia yang memerah sudah terlampau dekat, dan telapak tangannya yang lembut sempat menyentuh perutnya dengan sengaja. Sorot mata Reza langsung menggelap. Jakunnya bergerak naik turun, lalu dia menunduk dan mencium tanpa ragu. Dia membelakangi pintu sehingga tidak melihat ada sesuatu di mata Nara yang runtuh. Sebaliknya, Cyntia yang terengah setelah berciuman melirik ke arah Nara, dan menyunggingkan senyum puas. Bibirnya membentuk ejekan tanpa suara. "Dasar perempuan tua!" Tatapan Nara membeku. Dengan suara dingin, dia menyuruh teman Reza itu melepaskan dirinya. Teman masa kecil itu terus minta maaf dan membela Reza, mengulur waktu cukup lama hingga Cyntia sudah mendekat diam-diam. Dengan senyum melengkung, dia berkata manis namun menusuk, "Lidah Dokter Reza agresif sekali, bahkan ciumannya nggak setengah-setengah. Kakak nggak cemburu, 'kan?" "Cemburu karena kamu masih muda tapi nggak tahu malu merebut milik orang lain?" Nara tersenyum dingin. Wajah Cyntia langsung berubah. Dengan amarah bercampur malu, dia membalas, "Orang yang nggak dicintai itulah orang ketiga!" "Kamu sudah hampir kepala tiga. Apa hakmu membandingkan diri denganku?" Dia menarik tali bahu gaunnya, lalu melirik pakaian Nara yang sederhana dengan tawa mengejek. "Pantas saja Dokter Reza nggak tertarik lagi. Usia bertambah, tapi nggak ada daya tarik sama sekali." "Kudengar kamu bahkan melanjutkan studi ke luar negeri? Jangan-jangan itu bukan karena kemampuanmu, tapi karena kamu jual diri ke orang-orang asing." Tepat setelah ucapannya, Nara mengangkat tangannya dan menampar Cyntia. Plak! Suara tamparan menggema tajam di udara. Wajah Cyntia terhempas ke samping. Dengan ekspresi tak percaya, dia perlahan menoleh kembali, lalu menjerit histeris, "Berani-beraninya kamu menamparku!" "Kenapa nggak?" balas Nara dingin, dan tatapannya setajam es. "Lebih baik kamu tutup mulutmu. Kata-katamu lebih kotor daripada toilet." Keributan makin membesar. Akhirnya, Reza, dengan bau alkohol yang masih pekat, menyadari sudut gelap tempat keributan itu terjadi.

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.