Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 6

Tatapan Reza sempat terhenti saat melihat Nara. Namun detik berikutnya, matanya jatuh pada pipi Cyntia yang memerah dan bengkak, amarahnya pun langsung menyala. Di hadapan semua orang, dia melangkah cepat, menarik Cyntia ke belakang tubuhnya, lalu membentak tanpa ragu, "Nara, kamu sudah gila?" "Apa salah Cyntia sampai kamu bertindak sekasar ini?" Pria yang dulu bersumpah dengan mata memerah akan mencintainya seumur hidup, kini tanpa ragu menyerahkan seluruh pembelaan dan kepercayaannya pada perempuan lain. Nara tersenyum tipis. "Dia sudah nggak tahu malu merebut milik orang lain. Apa alasan itu masih kurang?" Dia mengangkat dagu, tatapannya menekan dan tak memberi jalan mundur. "Reza, Cyntia jelas-jelas menyukaimu. Lalu kamu sendiri? Bagaimana perasaanmu ... apa kamu juga mencintainya?" "Apa sebenarnya yang kamu bicarakan?" Reza mengelak, tatapannya sempat bergeser, nadanya pun melemah. "Sudahlah, jangan bahas ini di sini." "Kamu bisa berciuman dengannya tanpa peduli siapa pun, tapi aku nggak boleh mengatakan kebenaran?" Nara tertawa pelan. Hanya dia yang tahu, tawa itu sarat getir. Reza terpaku. Dia tidak menyangka, Nara telah melihat semuanya. Kesadaran yang tertutup alkohol akhirnya runtuh. Dia melangkah maju hendak meraih Nara, ingin menjelaskan bahwa itu hanya kekhilafan sesaat. Namun tatapan penuh ketergantungan dari Cyntia membuatnya ragu. "Kita pulang dulu, dan bicara baik-baik di rumah, oke?" "Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan." Nara menepis tangan pria itu dengan keras. Benturan itu begitu kuat hingga telapak tangannya sendiri ikut terasa perih dan terbakar. Dia melangkah cepat menuju luar, sementara di belakangnya terdengar langkah kaki Reza yang tergesa, disusul suara Cyntia yang tertahan dan penuh keluhan, memanggil lirih, "Dokter Reza ... " Pada akhirnya, Nara keluar dari bar seorang diri. Cahaya bulan menarik bayangannya memanjang, tampak sunyi dan sendirian. ... Nara pulang secepat mungkin. Semua barang sudah dikemas. Malam itu juga, dia memutuskan untuk pergi dan tidak kembali. Namun Reza juga melaju pulang tanpa peduli apa pun. Dia tiba hampir bersamaan dengan Nara, menyusul masuk ke dalam rumah dengan napas masih tersengal. Tanpa memberi waktu, dia mengeluarkan sebuah cincin berkilau dan langsung mencoba menyematkannya ke jari Nara. "Aku sudah berjanji," katanya serius. "Begitu kamu kembali ke sini, kita menikah." "Akhir-akhir ini memang banyak hal terjadi ... tapi niatku nggak pernah berubah. Mulai sekarang, mari kita jalani hidup dengan baik, ya?" Berlian itu memantulkan cahaya bening. Di bagian dalam cincin terukir inisial nama mereka. Wajah Reza begitu sungguh-sungguh, sampai sesaat Nara seperti ditarik kembali ke masa ketika mereka saling bersumpah untuk selamanya. Namun rasa dingin di jari manisnya segera menyeretnya kembali ke kenyataan. Nara melangkah mundur dua langkah, melepas cincin itu tanpa ragu, lalu melemparkannya jauh. "Reza, kamu belum jawab pertanyaanku," katanya dengan dingin. "Apa sebenarnya arti Cyntia bagimu?" Cincin yang dibuat dengan penuh perhitungan jatuh ke lantai, bahkan menampakkan retakan halus. Reza terdiam sesaat, lalu amarahnya langsung menyala tanpa kendali. "Nara, sampai kapan kamu mau membuat keributan seperti ini?" Rahangnya mengeras, wajahnya menggelap menakutkan. "Kenapa kamu terus terjebak pada satu hal yang sama? Kenapa selalu menyeret nama Cyntia?" "Aku katakan terus terang!" bentaknya. "Cyntia bukan hanya anak magang di rumah sakitku. Setelah masa magangnya selesai, aku akan mengangkatnya sebagai pegawai tetap!" "Semua tuduhan dan sikap keras kepalamu nggak akan mengubah apa pun." Suara Reza sedingin es, jatuh tegas satu per satu, "Nara, kamu harus sadar, dalam hubungan ini, kamulah yang nggak bisa meninggalkanku." "Kamu yakin?" Nara memotong suara dingin Reza. Melihat alis pria itu makin berkerut, Nara justru tersenyum tipis. "Kamu memang orang terpenting dalam sepuluh tahun hidupku. Tapi bersamaan dengan itu, aku juga punya pendidikan dan masa depan sendiri. Aku bukan tanaman parasit yang hidup menempel padamu." "Kenapa kamu begitu yakin aku nggak bisa hidup tanpamu?" Napas Reza tanpa sadar menjadi lebih berat. Bagaimana mungkin Nara benar-benar meninggalkannya? Itu mustahil. Nara pasti hanya bersikap keras kepala. Saat Reza terus menolak kemungkinan itu, layar ponsel yang tergeletak di dekat pintu tiba-tiba menyala. Sebuah pengingat jadwal penerbangan muncul di layar. Mata Reza menyipit. Dengan satu gerakan cepat, dia mengulurkan tangan hendak meraih ponsel itu.

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.