Bab 9
Sehari sebelum pernikahan Sofi, kami beberapa sahabat berkumpul mengadakan pesta lajang.
Semua orang minum, mengobrol, bercanda tanpa henti.
Ada yang bertanya dengan hati-hati, "Nabila, Alvin ... Sepertinya hukumannya dikurangi, mungkin tahun depan bisa keluar."
Tanganku yang memegang gelas terhenti sejenak di udara.
"Oh ya?" ucapku dengan tenang.
"Kamu nggak akan ... "
"Nggak akan apa?" Aku tersenyum. "Jemput dia atau balas dendam?"
Semua orang terdiam.
Aku menggoyangkan gelas perlahan. "Semua sudah berlalu."
"Dia keluar, itu hidup barunya."
"Aku melangkah maju, itu pilihanku."
"Aku dan dia nggak akan pernah punya hubungan lagi."
Sofi yang pertama mengangkat gelas dan berseru, "Bagus sekali! Untuk kelahiran baru Nabila, bersulang!"
"Bersulang!"
Gelas-gelas beradu, menimbulkan bunyi jernih yang nyaring.
Usai pesta, dengan mabuk tipis aku berjalan sendiri ke balkon menikmati angin.
Tiba-tiba, ponselku berdering.
Nomor asing.
Aku menjawab, "Halo?"
Di ujung sana hening begitu lama.
Begitu

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda