Bab 2
Pagi hari saat membuka mata, aku setengah sadar menyadari bagian "itu" bereaksi, terbuka begitu saja di luar selimut.
Wajahku memerah, dan aku segera menutup diri dengan selimut, lalu dengan perasaan bersalah melirik ke arah tempat tidur.
Untungnya, Kiara belum bangun. Kalau sampai dia melihatnya, itu akan sangat memalukan.
Saat ini aku sedang dalam masa libur, sehingga aku tidak perlu bekerja.
Kiara yang baru datang masih agak pemalu, sering berdiam sendirian di kamar tamu dan jarang keluar. Saat makan bersama pun dia tidak berani menatapku langsung.
Dengan tambahan satu orang, rumah yang semula sepi itu kini memiliki sedikit kehangatan hidup.
Perlahan, kami makin akrab, seperti kakak dan adik kandung sungguhan, mengerjakan pekerjaan rumah bersama, makan bersama, dan sering pula memanggang camilan kecil.
Pada siang hari yang cerah, aroma kopi dan kue saling berpadu, memenuhi seluruh dapur.
Kami duduk di meja makan. Kiara menyendok sepotong kecil kue dengan garpu dan memasukkannya ke m

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda