Bab 10
Lima atau enam tamparan berturut-turut membuat Agatha benar-benar linglung.
Wajahnya terasa perih, tapi dia sudah tidak sempat memedulikannya.
Dia langsung menatap Cassandra dengan penuh kebencian dan mengancamnya, "Kamu nggak takut aku memecahkan gelang ini?"
Gelang itu masih ada di pergelangan tangannya. Selama dia sengaja membenturkannya ke meja, gelang itu pasti akan pecah.
Ancaman ini mungkin akan sangat efektif untuk Cassandra yang dulu.
Karena saat itu dia sangat menghargai gelang tersebut, menghargai statusnya sebagai calon menantu Keluarga Tanadi, tentu saja dia akan menjaganya seperti nyawa sendiri!
Namun bagi Cassandra yang sekarang ....
Dia mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum santai. "Pecahkan saja. Kalau sampai membatalkan pernikahan, aku mau lihat apakah kamu masih punya kesempatan untuk menempel dengan Faldano."
"..."
Satu kalimat itu langsung membuat Agatha mundur.
Benar. Cassandra yang dulu bisa melakukan apa saja demi Faldano. Namun Cassandra yang sekarang seperti orang kerasukan. Sikapnya berubah drastis, bersikap dingin padanya dan bahkan sangat membenci Faldano ....
Apa ini benar-benar bukan trik tarik ulur?
Saat Agatha masih ragu, Cassandra sudah menariknya tanpa basa-basi dan langsung melemparkannya keluar kamar!
Agatha yang tadi masih pamer kekuasaan kini menuai akibatnya sendiri. Dia terjatuh ke lantai. Karena khawatir gelang giok di tangannya pecah, dia bahkan tidak berani menopang tubuh dengan tangan saat terjatuh, sehingga pantatnya menghantam lantai lebih keras.
Kebetulan sekali, Tere baru saja naik ke lantai atas dan menyaksikan pemandangan itu!
Dia sempat mengira Cassandra mencelakai putrinya dan langsung berteriak histeris, "Cassandra, kenapa kamu menindas adikmu seperti ini!"
Kemampuan membalikkan fakta ini benar-benar membuat orang tercengang.
Cassandra tetap tenang. Dia mengangkat alis dan tersenyum dengan sedikit kesan jahat. "Bibi sepertinya lupa, ini wilayahku. Sekalipun kamu memanggil orang tuaku, memangnya bisa melakukan apa padaku?"
Itu adalah fakta.
Dengan sifat orang tuanya yang sangat melindungi anak, kemungkinan besar mereka justru akan menanyakan apakah tangan Cassandra sakit setelah mendorong orang.
Wajah Tere berubah bentuk karena marah.
Agatha tahu betul bahwa kali ini memang dia yang salah. Demi tidak mengundang perhatian pasangan itu, dia buru-buru melepaskan gelang giok itu dan menyerahkannya sambil menggertakkan gigi. "Kakak jangan marah. Aku kembalikan ...."
Cassandra menatap Agatha yang terduduk di lantai dengan pandangan merendahkan dan mendengus dingin. "Anggap ini sebagai pelajaran. Lain kali berani masuk ke kamarku lagi, nggak cuma tamparan ini."
Setelah mengucapkan itu, Cassandra dengan santai memerintahkan pelayan di sampingnya untuk mengambil gelang tersebut, mensterilkannya, lalu mengembalikannya ke kamarnya.
Lagi pula, itu adalah barang yang akan dikembalikan ke Keluarga Tanadi. Kalau bukan karena itu, setelah disentuh Agatha, nasibnya pasti sudah di tempat sampah. Dia tidak akan menyentuhnya lagi.
Dia merasa jijik!
Di depan ibu dan anak itu, Cassandra langsung membanting pintu.
Agatha menutupi wajahnya dan bangkit dari lantai. Air mata menggenang di matanya, tampak seolah-olah dia menanggung ketidakadilan yang sangat besar.
Tere merasa kasihan. "Kamu ini, kenapa menyentuh gelang kesayangannya? Gadis sialan itu keterlaluan sekali. Dia bahkan menampar saudaranya sendiri dengan begitu kejam!"
Agatha tidak berkata apa-apa. Dia menundukkan kepala dan berjalan menuju kamarnya.
Begitu sampai di kamar, dia langsung menjatuhkan diri ke atas ranjang dan menangis keras-keras.
Baginya, beberapa tamparan itu bukan masalah besar. Yang paling menyakitkan adalah tidak ada seorang pun yang membelanya. Dia hanya bisa ditindas tanpa berani bersuara.
Agatha sangat marah. Dia juga menyalahkan Felix dan istrinya. "Kalian sama sekali nggak punya kemampuan! Cuma bisa melihat anak sendiri diperlakukan nggak adil! Katanya ke Keluarga Nesmir buat hidup enak, kenyataannya apa? Cuma datang buat jadi pecundang!"
"Agatha ...."
Mendengar itu, hati Tere juga merasa tidak enak.
Dulu dia memberi nama Agatha dengan harapan putrinya bisa tumbuh dimanja. Namun kenyataan justru menampar mereka dengan keras.
Agatha tidak salah. Mereka memang tidak punya kemampuan apa-apa. Hanya bisa hidup menumpang dan membiarkan diri dirundung orang lain.
Saat melihat pipi putrinya yang bengkak, Tere juga dipenuhi amarah. Dia menurunkan suaranya dan berkata, "Agatha, kamu tenang saja. Ayahmu akan bergerak dalam beberapa hari ini. Selama kita dapat momen yang tepat, Keluarga Nesmir nggak akan bisa berbuat apa-apa pada kita."
"Benarkah?"
Barulah saat itu Agatha merasa sedikit lega.
Sejak kejadian kemarin, Agatha tidak henti-hentinya memengaruhi orang tuanya. Dia mengatakan kalau sebaik apa pun Keluarga Nesmir memperlakukan mereka, itu semua hanyalah belas kasihan dan sedekah. Kalau ingin benar-benar dihormati dan tidak dipandang rendah, satu-satunya cara adalah berdiri di posisi yang tinggi!
Oleh karena itu, rencana mereka adalah menelan Keluarga Nesmir sedikit demi sedikit.
Akhirnya, mereka akan mulai bergerak!
Agatha merasa sangat puas.
Dalam benaknya, dia seolah sudah melihat Cassandra berlutut di hadapannya, menangis tersedu-sedu sambil memohon belas kasihan. Saat itu tiba, dia punya seribu satu cara untuk membuat Cassandra hidup sengsara tapi mati pun tidak bisa!
Ibu dan anak itu menutup pintu kamar, larut dalam khayalan indah tentang menelan Keluarga Nesmir dan menguasai harta yang sangat besar. Mereka sama sekali tidak tahu kalau semua itu telah masuk ke telinga Cassandra ....
Benar. Cassandra telah memasang alat penyadap di kamar Agatha.
Setelah hidup kembali, Cassandra jauh lebih paham daripada siapa pun betapa licik dan kejamnya keluarga itu!
Ambisi mereka setinggi langit, keserakahan mereka bahkan lebih besar daripada binatang buas.
Mereka mengatakan Keluarga Nesmir memperlakukan mereka dengan buruk? Justru sebaliknya, mereka yang tidak pernah merasa cukup! Meminta tanpa batas!
Soal ini sebenarnya mereka sendiri juga tahu. Mereka hanya berbohong dengan mata terbuka, pura-pura bodoh, demi mencari alasan yang sempurna untuk keserakahan mereka sendiri!
Cassandra melepas earphone. Di matanya yang berkilau bak bintang, muncul secercah niat membunuh yang dingin dan haus darah.
Huh!
Kalau mereka ingin bermain, tentu saja dia akan membantu dengan mendorong dari belakang.
Kalau hanya mengandalkan isi rekaman ini saja, masih belum cukup untuk membuat ayahnya benar-benar membenci keluarga itu.
Yang Cassandra inginkan adalah mencabut sampai ke akar, tidak menyisakan masalah!
Ucapan saja tidak cukup. Dia ingin menyeret semua rencana kotor dan perhitungan licik keluarga itu ke hadapan ayahnya, agar ayahnya tahu kalau kebaikannya selama ini hanya diberikan pada sekelompok serigala tidak tahu terima kasih!
Serigala-serigala itu bahkan berniat membunuh seluruh keluarganya!
Pada saat itu, tidak peduli bagaimana keluarga itu memohon, Maxi pasti tidak akan berhati lembut lagi ....
Saat memikirkan hal ini, Cassandra menghubungi seseorang dengan ponsel barunya.
"Halo, Paman Johan? Ini aku, Cassandra. Aku mau minta tolong Paman bantu satu hal."
Malam itu, vila Keluarga Nesmir terang benderang. Satu keluarga besar duduk bersama, bercanda dan tertawa, tampak rukun dan harmonis.
Felix dan Tere dengan sigap menambah nasi dan menuangkan minuman, kelihatannya jujur dan lugu.
Cassandra tersenyum penuh makna.
Umpan sudah dilempar. Sekarang tinggal menunggu ikan memakan kailnya ....