Bab 9
Saat Cassandra masuk ke rumah, pikirannya masih dipenuhi tatapan mengintimidasi Victor barusan, hingga sebuah ide berani tiba-tiba muncul di kepalanya.
Jangan-jangan ... itu karena dia sempat melirik Kenneth beberapa kali?
Seluruh Kota Lumora tahu, Victor dan Kenneth selalu bersama sepanjang tahun, hubungan mereka tidak biasa.
Bahkan ada rumor yang mengatakan Victor tidak dekat dengan wanita.
Jangan-jangan ... mereka berdua sebenarnya pasangan?
Huh ....
Semakin dipikirkan, Cassandra malah merasa kemungkinan itu cukup besar.
Kalau begitu malah bagus. Demi bisa meminjam kekuatan Victor, ke depannya dia bisa menyesuaikan diri dengan seleranya!
Setelah memikirkan semuanya, Cassandra melangkah masuk ke vila keluarganya dengan perasaan senang.
Namun baru saja satu kaki masuk ke rumah, tanpa sengaja dia mendengar suara Tere yang sedang membujuk adiknya.
"Bryan, kamu satu-satunya anak laki-laki ayahmu. Usaha keluarga sebesar ini, nanti kalau bukan untukmu, mau dikasih ke siapa lagi? Kakakmu hanya anak perempuan, nantinya juga ikut marga orang lain. Kamu harus hati-hati ya, jangan sampai harta keluarga sebesar ini direbut semua oleh kakakmu!"
Bryan baru pulang sekolah dan duduk di sofa sambil bermain rubik. Tere terus mengoceh di sampingnya.
"Apa yang Bibi katakan ini semuanya demi kebaikanmu. Kamu masih kecil, belum mengerti apa-apa. Nanti kalau sudah besar, baru kamu tahu betapa tulusnya niat Bibi."
Cassandra bersandar malas di ambang pintu, sudut bibirnya terangkat dengan senyum dingin.
Niat tulus yang sangat luar biasa.
Kalimat mana yang tidak sedang mengadu domba hubungannya dengan adiknya?
Yang paling lucu adalah di depan Bryan dia bicara seperti ini, tapi di depannya, kata-katanya berubah lagi.
Cassandra masih ingat di kehidupan sebelumnya, dia juga terus dihasut. Katanya, harta keluarga mereka semua milik adiknya. Setelah dia menikah dengan Faldano, selain gelar Nona Besar Keluarga Nesmir, dia tidak akan mendapat saham apa pun. Saat itu Keluarga Tanadi pasti akan memandang rendah dirinya dan seterusnya ....
Saat itu dia bodoh dan benar-benar memercayai omong kosong Tere!
Akibatnya, untuk waktu yang lama hatinya dipenuhi emosi, sampai-sampai sengaja menjaga jarak dengan adiknya sendiri.
Hasutan jahat seperti ini benar-benar sama saja dengan membunuh tanpa pisau!
Cassandra baru saja hendak bicara, tapi Bryan di sofa tiba-tiba mendongak. Wajah kecilnya yang tampan tampak dingin dan penuh ketidaksabaran. "Sudah cukup belum? Sekarang giliranku yang bicara. Pertama, semua harta keluarga dikasih ke kakakku pun aku nggak keberatan sama sekali. Kedua, kakakku orang yang sangat baik, nggak perlu kamu ikut campur!"
Setelah berkata demikian, dia langsung pergi.
Untuk anak delapan tahun, kata-kata itu terlalu dewasa.
Tere jelas tidak terima dan masih ingin menghasut.
Namun Bryan tiba-tiba menoleh kembali. Wajah cantik kakak adik itu sama persis dan senyum licik terukir di wajahnya. "Semua omongan Bibi barusan sudah aku rekam. Nanti aku suruh Ayah dengar juga."
Ancaman!
Ancaman terang-terangan!
Tere sama sekali tidak menyangka bocah kecil ini berani membalikkan keadaan!
Kalau ucapan seperti itu hanya dibicarakan diam-diam masih tidak masalah, tapi kalau sampai didengar Maxi, dengan sifatnya yang protektif, dia pasti akan dimarahi habis-habisan!
"Bryan ... Bibi hanya bercanda denganmu. Kenapa kamu malah begitu serius?"
Tere tersenyum kaku. Dari sudut matanya, dia melihat Cassandra masuk dari luar dan langsung menutup mulut.
Begitu melihat kakaknya pulang, Bryan langsung senang. Dia menarik tangan Cassandra dan naik ke lantai atas. "Kakak, ayo! Aku mau menunjukkan sesuatu yang seru!"
"Baik."
Kakak adik itu sama sekali tidak menggubris Tere dan langsung naik ke atas.
Di lantai atas, Cassandra membungkuk menatap adiknya sambil tersenyum dan berkata, "Kamu benaran merekamnya?"
Bryan menggeleng dengan jujur. "Nggak. Hanya menakutinya saja."
Lagi pula, sekalipun benar-benar ada rekaman, untuk hal sepele seperti itu, ayah mereka juga tidak akan sampai mengusirnya.
Saat memikirkan hal itu, Bryan sedikit kecewa. "Mereka sangat menyebalkan dan selalu menjelekkan Kakak."
Cassandra mengusap kepala adiknya dengan lembut, senyumnya tetap tenang. "Anak kecil nggak perlu cemberut. Hal-hal seperti ini biar Kakak yang urus. Percaya sama Kakak, ya?"
Nada bicaranya tenang tanpa gejolak, tapi justru memberi rasa aman.
Bryan langsung mengangguk.
Dia jelas bisa merasakan, kakaknya sekarang sudah berbeda dari sebelumnya. Tidak lagi polos dan mudah ditipu, juga tidak mudah terbuai oleh tampilan luar.
Bryan pun merasa lega. Di mata cerahnya, tampak cahaya yang berbeda.
Setelah kakak adik itu bermain gim bersama cukup lama, Cassandra akhirnya bangkit dan kembali ke kamarnya.
Namun saat tiba di depan pintu, dia mendapati pintu kamarnya setengah terbuka.
Jelas, ada seseorang di dalam.
Cassandra mengerutkan kening.
Seluruh keluarga tahu, dia tidak suka orang lain masuk ke kamarnya, apalagi sembarangan menyentuh barangnya.
Para pelayan tentu tidak akan sembarangan. Kalau begitu, siapa lagi yang berani menerobos masuk dengan begitu terang-terangan? Jawabannya sudah jelas.
Cassandra mendorong pintu dan masuk. Benar saja, dia melihat Agatha duduk di depan meja riasnya, memainkan sebuah gelang giok yang selama ini dia simpan dengan sangat hati-hati di dalam kotak.
Gelang giok itu adalah hadiah setelah dia bertunangan dengan Faldano. Saat itu, Nyonya Wenda sendiri yang memakaikannya di pergelangan tangannya. Katanya itu adalah pusaka turun temurun Keluarga Tanadi, yang hanya diwariskan pada menantu perempuan keluarga mereka.
Kala itu, Cassandra tentu saja sangat bahagia. Dia takut gelang itu tergores sedikit saja, enggan memakainya, dan akhirnya menyimpannya seperti harta karun.
Namun siapa sangka, hari ini gelang itu justru dikeluarkan oleh Agatha, bahkan dipakai olehnya secara terang-terangan.
Cassandra langsung membuka pintu dan berkata dingin, "Keluar."
"Kakak kenapa marah? Aku hanya merasa iri saja."
Agatha mengangkat tangannya, memandangi gelang giok yang bening dan jelas bernilai mahal di pergelangan tangannya. Dia tiba-tiba tertawa. "Aku tebak Kakak pasti sangat marah. Dan di hati Kakak sekarang, kamu pasti ingin memukulku, 'kan?"
"Kamu pikir aku nggak berani?"
"Berani. Mana mungkin putri Keluarga Nesmir nggak berani?"
Agatha menatap Cassandra dengan penuh kesombongan. "Tapi kalau kamu berani menyentuhku, bagaimana kalau gelang ini jatuh dan pecah?"
Agatha mengakui kalau dia memang iri.
Dia sangat iri!
Cassandra bisa menjadi tunangan Faldano hanya karena mengandalkan latar belakang keluarganya yang unggul!
Ketika dia bersusah payah membuat Faldano membenci Cassandra, siapa sangka, dalam sekejap Cassandra malah berhasil mendekati Victor!
Agatha sangat membencinya.
Agatha tahu seharusnya dirinya tetap tenang. Namun hari ini, dia diabaikan begitu saja dan bahkan disiram air kotor, dia tidak bisa menahan amarah itu. Itulah sebabnya dia datang untuk memprovokasi Cassandra.
Betapa berharganya gelang giok ini sudah tidak perlu dijelaskan lagi. Dia tidak percaya Cassandra benar-benar berani bertindak kasar padanya.
Namun Agatha salah.
Cassandra berani.
Begitu melangkah maju, dua tamparan langsung mendarat!
Tamparan itu datang terlalu cepat. Agatha masih tenggelam dalam rasa puasnya dan belum sempat bereaksi, tiba-tiba pipinya terasa panas dan perih!
"Kamu ... kamu berani memukulku?"
Saat menghadapi ketidakpercayaan Agatha, Cassandra mengaitkan bibirnya, lalu kembali melayangkan dua tamparan keras lagi.
"Agatha, kamu benar-benar berani! Masuk ke kamarku, menyentuh barangku, tapi masih berani pamer di depanku? Siapa yang kasih kamu keberanian?"
Untuk orang yang datang mencari masalah sendiri, Cassandra tidak akan bersikap sopan.