Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 8

Di hadapan Cassandra berdiri Victor, seperti dewa yang turun ke bumi. Tangannya yang beruas tegas memegang payung, payung itu dimiringkan ke arahnya. Tangan satunya lagi melingkari pinggang Cassandra dengan akrab, melindunginya sepenuhnya. Mobil hitam milik Keluarga Zemandes melaju kencang dan berhenti dengan arogan di depan pintu arena gelap. Saat melihat Cassandra masih belum sadar, Victor tersenyum tipis, lalu menepuk pinggangnya dengan pelan. "Naik." Suara rendahnya begitu enak didengar. Tanpa banyak pikir, Cassandra langsung naik ke mobil Keluarga Zemandes. Di belakang, wajah Agatha yang tadinya penuh pamer langsung berubah. Siapa pria tadi? Victor Zemandes! Pria dengan kekuasaan terbesar di seluruh Kota Lumora! Sejak kapan Cassandra punya hubungan dengan Keluarga Zemandes? Selain itu .... Victor adalah paman Faldano! Ketika memikirkan itu, Agatha menoleh melihat ekspresi Faldano. "Kak Faldano ...." "Aku antar kamu pulang." Nada Faldano sangat dingin. Jelas dia menahan segudang amarah. Amarah karena dimaki Cassandra, juga karena malu dan marah mengetahui tunangannya ternyata begitu tidak tahu malu! Agatha menggigit bibir. Terbayang sekilas wajah tampan bak dewa yang tadi dilihatnya, tiba-tiba Faldano di sisinya terasa tidak menarik lagi. Di sini, dua orang itu menyimpan pikiran masing-masing. Sementara di mobil lain, Cassandra justru menyesal setengah mati. Gegabah memang iblis. Kenapa dia bisa mendadak kehilangan akal sampai naik ke mobil Victor? Keduanya duduk di kursi belakang, mobil melaju lama tanpa sepatah kata pun. Akhirnya Cassandra berdeham pelan dan berkata, "Itu ... Paman Victor, lukamu sudah lebih baik?" "..." Panggilan "Paman Victor" itu sukses membuat sudut bibir Victor berkedut. Yang menyetir di depan adalah Kenneth. Begitu mendengarnya, dia langsung tertawa kencang tanpa sungkan. Sampai tatapan tajam Victor melesat ke arahnya, barulah dia segera menutup mulut dan pura-pura serius. "Aku setua itu?" Victor menatap Cassandra, sambil diam-diam menggertakkan gigi. Cassandra buru-buru menggeleng kencang. Dia memanggilnya "Paman Victor" bukan karena usia, melainkan karena generasi. Victor adalah anak bungsu dari tuan Besar Keluarga Zemandes yang lahir di usia senja. Umurnya hanya tujuh tahun lebih tua dari Cassandra, tapi dari segi generasi, dia satu tingkat dengan ayahnya. Jadi sebenarnya panggilan itu tidak salah. Namun ketika melihat wajah bos besar itu tampak tidak terlalu senang, Cassandra dengan cerdik mengalihkan topik. "Itu ... terima kasih sudah membantuku keluar dari situasi tadi dan mengantarkanku pulang." "Nggak perlu." Victor tersenyum samar. "Anggap saja balasan karena kamu membalut lukaku waktu itu." "..." Begitu topik itu muncul, Cassandra merasa sedikit bersalah. Apakah pita kupu-kupu itu terlihat olehnya? Cassandra duduk manis dan tidak berani bicara lagi. Justru pada saat ini, Kenneth menoleh dengan wajah menggoda dan berkata, "Adik, kamu gadis pertama yang naik mobil pribadi Tuan Muda Victor. Bagaimana rasanya?" Pikiran Kenneth sangat sederhana. Victor adalah gunung es abadi dalam urusan cinta. Begitu akhirnya menunjukkan sedikit ketertarikan pada lawan jenis, sebagai saudara tentu harus memberikan sedikit dorongan. Cassandra tertegun, lalu tanpa sadar menjawab, "Oh, aku merasa terhormat." Victor, "..." Kenneth langsung tertawa lagi sambil memukul setir. Jawaban yang datar tanpa gelombang itu benar-benar menggemaskan. Setidaknya kasih sedikit reaksi terkejut atau senang, 'kan? Kenneth tertawa sendiri, sementara Cassandra justru menatap wajah Kenneth dengan linglung. Entah kenapa, dia merasa wajah itu agak familier, tapi untuk sesaat dia tidak ingat pernah melihatnya di mana. Saat dia tenggelam dalam pikiran, tatapannya pun menjadi kosong. Sampai Victor mendekat dan bertanya dengan nada setengah tersenyum, "Tampan, ya?" Cassandra tersentak sadar dan langsung merasa canggung. Baru saat ini dia menyadari kalau bos besar itu sangat dekat dengannya, hampir memojokkannya ke sudut kabin mobil! Yang tercium di ujung hidungnya adalah aroma tubuhnya, sangat samar, segar, dan enak. Hanya saja, posisi ini terlalu ambigu. Cassandra tidak bisa mundur lagi, jadi dia mengingatkan dengan pelan, "Itu ... aku sudah hampir nggak punya tempat duduk ...." Victor tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatap Cassandra dengan diam, matanya penuh penilaian dan penyelidikan. Bahkan ada sedikit niat membunuh. Jantung Cassandra langsung berdegap keras. Dia sudah lama mendengar kalau tokoh iblis dari Keluarga Zemandes ini terkenal dengan suasana hatinya yang sulit ditebak. Kini setelah melihat langsung, ternyata benar-benar sulit ditebak! Untungnya, pada saat ini mobil berhenti. Cassandra dengan cepat membuka pintu dan turun, hanya meninggalkan satu kalimat. "Terima kasih, Bos Besar, sudah mengantarku pulang. Lain hari aku traktir makan!" Lalu kabur secepat kilat. Di dalam mobil, Kenneth melihat punggung gadis kecil yang melarikan diri itu, lalu menoleh ke Victor yang ekspresinya sulit diterka dan bertanya dengan bingung, "Apa yang kamu lakukan padanya?" "Nggak ada apa-apa," Victor berkata datar. "Gadis ini pikirannya dalam. Kamu nggak boleh mendekatinya." ??? Kenapa menyeretnya juga? Kenneth benar-benar bingung. Saat merenungkan kalimat itu, tiba-tiba sebuah pikiran melintas di benak Kenneth. Jangan-jangan maksud Victor adalah .... Gadis itu pikirannya dalam, jadi dia, Kenneth, tidak boleh mendekatinya, tapi Victor sendiri boleh? Kenneth langsung bergidik. Mungkin dia hanya berpikir terlalu banyak. Lagi pula, berharap gunung es abadi mencair rasanya tidak terlalu mungkin. Sambil berpikir begitu, Kenneth memutar arah mobil. Di pinggir jalan, kebetulan berdiri Agatha yang baru saja turun dari mobil Faldano. Sekali lihat, dia langsung mengenali mobil milik Keluarga Zemandes. Dalam sekejap pikirannya berputar cepat, lalu dia membuat sebuah keputusan nekat! Pura-pura tertabrak! Tujuannya bukan uang, melainkan ingin menarik perhatian Victor! Namun, baru saja dia hendak memasang ekspresi lemah lembut dan siap menggesek sedikit mobil itu, Kenneth yang mengemudi sama sekali tidak memperhatikan orang di samping. Dia menginjak gas dan melaju pergi begitu saja! Yang tersisa hanyalah Agatha yang tersiram air genangan sisa hujan dan berdiri kacau tertiup angin! "Ah!" Agatha mengentakkan kaki dengan kesal! Apa sebenarnya yang kurang darinya? Kenapa di mata semua orang yang ada hanya Cassandra saja? Menyebalkan! Dia mengangkat kepala menatap vila Keluarga Nesmir yang menjulang di hadapannya. Kilatan kejam melintas di mata Agatha. Cepat atau lambat, semua yang ada di sini akan menjadi miliknya! Cepat atau lambat, dia akan membuat Cassandra merangkak di bawah kakinya dan tidak akan pernah bisa bangkit lagi!

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.