Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 7

Pertemuan di hutan waktu itu memang hanya sekejap, tapi wajah cantik menakjubkan itu cukup untuk membuat orang tidak bisa melupakannya. Termasuk pita kupu-kupu yang feminin itu. Victor menepuk punggung Kenneth. "Jangan lihat lagi. Pergi pasang taruhan." "Hah?" Kenneth sempat tidak bereaksi, lalu refleks bertanya, "Taruhan siapa?" Pria yang tampak tenang itu menunjuk dari kejauhan. "Dia." Sebelum hasil pertandingan keluar, taruhan masih dibuka. Karena perhatian semua orang tertuju ke arena, tidak banyak yang menyadari kalau seseorang telah memasang taruhan besar, dua miliar, untuk kemenangan Cassandra! Pada saat ini, Cassandra dengan santai melepaskan anak panah pertamanya! Di tengah tatapan semua orang, anak panah itu melesat dengan momentum kuat! Namun detik berikutnya, anak panah itu bahkan tidak menyentuh sasaran dan langsung jatuh ke tanah! Meleset jauh sekali! "Haha, konyol sekali! Aku bilang, pajangan hanya untuk dipajang!" "Aku kira dia hebat, ternyata hanya cantik, nggak berguna sama sekali!" "Kelihatannya hari ini bisa menonton tarian striptis sampai puas!" Gelak tawa bergema di seluruh arena gelap. Ekspresi Cassandra tidak berubah sedikit pun. Dia langsung memasang anak panah kedua. Hasilnya tetap sama, meleset jauh! Suara tawa semakin riuh. Dalam sekejap, lima anak panah Cassandra semuanya meleset! Dia tidak mendapatkan satu poin pun! Ini berarti lima anak panah terakhir harus semuanya tepat mengenai pusat sasaran agar dia bisa mengalahkan Nevan! Tapi mungkinkah itu? Nevan tertawa sampai perutnya sakit, sambil menunjuk Cassandra dan memukul meja. "Mengaku kalah saja! Selama kamu mengaku kalah dan memohon padaku, aku bisa pertimbangkan hanya menyuruhmu buka setengah saja!" Ini musim panas, pakaiannya memang sudah tipis. Cassandra meliriknya dengan dingin, lalu kembali menarik busur. Sekarang, dia akan bermain sungguhan. Bagi para penonton, ini sudah menjadi pertandingan tanpa ketegangan. "Ah, nggak seru, hanya perlawanan terakhir sebelum kalah." Cemoohan dan ejekan terus terdengar. Bahkan Kenneth di lantai dua pun menggeleng. "Sepertinya akan kalah." "Belum tentu." Victor bersandar di depan jendela besar. Wajahnya tetap santai seperti biasa, tapi di dalam mata hitamnya yang dalam dipenuhi keyakinan. "Serius?" Kenneth masih ragu, tapi saat menunduk melihat lagi, dia langsung berteriak kaget! "Ya ampun! Sepuluh poin!" Di arena, Cassandra melepaskan satu anak panah, tepat menembus pusat target merah! Suara tawa di sekeliling langsung berhenti mendadak. Ini ... ini mana mungkin? Jelas-jelas tadi selalu meleset, sekarang tiba-tiba seberuntung itu? Beberapa orang yang tadi yakin Cassandra pasti kalah bahkan tidak memperhatikan dan refleks mengira ini pasti kecurangan! Tanpa ragu sedikit pun, Cassandra langsung menembakkan anak panah berikutnya. Sepuluh poin lagi! Tiga anak panah sisanya melesat berturut-turut, semuanya tepat di ring sepuluh! Lima puluh poin! Cassandra menang! Nevan melongo tidak percaya! Baru pada saat itu semua orang sadar, dengan teknik seakurat itu, kenapa Cassandra sengaja melesetkan lima anak panah pertama? Tujuannya adalah .... Menghancurkan sepuluh anak panah Nevan hanya dengan lima anak panah! Itu tekanan total! Sekaligus penghinaan secara terang-terangan karena sama sekali tidak menganggap Nevan sebagai lawan! Tiba-tiba, entah siapa yang berteriak, "Ada yang pasang dua miliar untuk Cassandra!" Begitu kalimat itu keluar, semua orang tercengang. Artinya, puluhan juta mereka langsung lenyap karena salah pasang taruhan! Tapi belum selesai. Saat turun dari arena, Cassandra melirik Nevan sambil tersenyum setengah mengejek. "Menarilah. Perlihatkan baik-baik pada penonton tubuhmu yang bikin sakit mata itu." Masih bisa menyesal sekarang? Nevan ingin kabur, tapi entah siapa yang tidak tahu diri mendorongnya naik ke panggung. Orang-orang di sekitar langsung berteriak, "Menari! Menari! Menarilah!" "Nggak terima kekalahan ya?" Setelah dihujani ejekan, Nevan dengan wajah penuh malu akhirnya mulai menari dengan canggung. Pemandangannya benar-benar menyiksa mata. Cassandra tidak tertarik menonton lebih lama dan diam-diam meninggalkan arena gelap. Dia malas memanggil sopir rumah dan bersiap naik taksi. Namun begitu keluar dari arena, dia berpapasan dengan Faldano dan Agatha yang bersandar manja di sisinya. "Kakak sudah keluar? Aku dan Kak Faldano tadinya mau masuk melihatmu, takut kamu ditindas orang. Kak, kamu nggak apa-apa, 'kan?" Betapa munafiknya. Bahkan disertai pamer dan provokasi yang disengaja. Cassandra hanya merasa itu menggelikan, lalu mengangkat kaki hendak pergi. Tidak disangka, Agatha tiba-tiba mencengkeram lengannya. Tenaganya begitu besar sampai kuku tajamnya langsung menancap ke daging Cassandra! "Lepaskan!" Cassandra refleks membalikkan tangan dan mendorong Agatha menjauh! Siapa sangka Agatha langsung menjerit dan jatuh ke tanah. Dari luar terlihat seolah-olah dia didorong oleh Cassandra. Semuanya terjadi terlalu cepat. Saat Faldano sadar kembali, dia lebih dulu membantu Agatha berdiri, lalu menunjuk Cassandra dengan marah. "Adikmu sengaja memintaku datang melihat supaya kamu nggak ditindas orang. Tapi kamu malah begitu nggak tahu diri seperti ini?" Cassandra mencibir. "Kamu datang melihatku? Memangnya kamu siapa? Seluruh dunia harus mengalah denganmu? Memangnya siapa kamu?" Cassandra membalas tanpa jeda napas sama sekali. Dia langsung menyemprot Faldano habis-habisan. Bagaimanapun juga, Keluarga Tanadi adalah keluarga terpandang di Kota Lumora. Biasanya, siapa yang tidak menghormati dan memanggilnya Tuan Muda Faldano? Tapi hari ini, Cassandra sama sekali tidak memberi muka padanya. "Kamu ...." Dia menunjuk Cassandra, begitu marah sampai lama tidak bisa mengucapkan satu kata pun. Sebaliknya, Cassandra mengangkat dagu dan mendekatkan wajahnya. "Kenapa? Tuan Muda Faldano mau main tangan?" Dalam beberapa kalimat saja, Faldano sudah berhasil membangkitkan amarah di dadanya. Kalau bukan karena masih ada sedikit akal sehat, Cassandra benar-benar ingin menendang kepala bajingan itu sampai pecah! Suasana pun seketika membeku. Agatha mendengus dingin dalam hati, tapi dia menarik lengan Faldano sambil seperti hendak menangis. "Kak Faldano, semua ini salahku. Jangan marah dengan Kakak. Itu hanya omongan pas lagi emosi, jangan dimasukkan ke hati." Ada satu jenis trik menengahi yang justru sama saja dengan menyiram minyak ke api. Misalnya Agatha saat ini. Semakin dia terlihat lembut, manis, dan penuh pengertian, Cassandra justru semakin tampak jahat dan kejam. "Ayo pergi!" Faldano mendengus kesal. Untuk pertama kalinya, dia menggenggam tangan Agatha dan bersiap pergi. Padahal Cassandra adalah tunangan resminya. Langit bergemuruh dengan suara guntur tertahan. Hujan awal musim panas memang selalu turun tanpa aba-aba. Di depan pintu arena gelap itu sama sekali tidak ada tempat berteduh. Agatha sudah duduk di mobil Faldano. Dalam hati dia sangat puas, tapi tetap menurunkan kaca jendela dan berteriak, "Kakak naik mobil juga ya, jangan kehujanan lagi!" Nada suaranya benar-benar seperti sedang memberi sedekah. Cassandra baru saja hendak bicara, ketika tiba-tiba terasa dorongan kuat di pinggangnya. Dia refleks menoleh dan tanpa persiapan langsung berhadapan dengan wajah tampan memesona.

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.