Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 12

Meski sebelumnya sudah mendengar dari Agatha kalau Cassandra berniat membatalkan pertunangan, Faldano tidak menganggapnya serius. Dalam pandangannya, itu adalah hal yang mustahil. Bagaimanapun juga .... Cassandra telah mengejarnya selama bertahun-tahun, mencintainya sampai tidak peduli dengan nyawanya. Meski dia berkali-kali mempermalukannya, Cassandra tidak pernah sekalipun menyerah. Namun hari ini, orang tua Cassandra benar-benar datang ke rumah dan kata membatalkan pertunangan sudah diucapkan. Faldano telah berkali-kali ingin melepaskan diri dari Cassandra, melepaskan diri dari pernikahan yang begitu ditolak olehnya. Tapi ketika hari ini benar-benar tiba, justru muncul perasaan gelisah yang tidak bisa dia jelaskan. Untungnya, Nyonya Wenda di bawah tidak langsung menyetujuinya. Dia tersenyum sambil menghindar, "Membatalkan pertunangan ini perkara besar, tentu harus aku bicarakan dulu dengan suamiku. Bukankah begitu, Besan?" "Tentu saja." Deasy mengangguk. Urusan dua keluarga, memang seharusnya diputuskan oleh orang tua dari kedua belah pihak. Kebetulan Renald hari ini tidak pergi ke kantor, maka Nyonya Wenda segera menyuruh pelayan memanggilnya dari area latihan. Sambil menunggu, kedua keluarga minum teh. Lalu Nyonya Wenda kembali berbicara. "Cassandra, kamu duduk di sini pasti bosan. Bibi suruh orang mengajakmu jalan-jalan ke taman belakang. Cuacanya bagus hari ini, bunganya juga sedang bermekaran, cantik sekali." Cassandra tahu alasan ini hanya untuk menyuruhnya pergi agar Nyonya Wenda bisa bicara dengan orang tuanya. Dia pun mengangguk dan mengikuti pelayan menuju taman belakang Keluarga Tanadi. Benar-benar lautan bunga. Cassandra menyuruh pelayan mundur, lalu berjalan-jalan sendiri tanpa tujuan. Musim panas baru saja dimulai. Matahari bersinar cerah, angin sepoi-sepoi bertiup. Dia membungkuk, mengulurkan tangan menyentuh bunga kacapiring yang sedang mekar indah di hadapannya. Kelopaknya lembut, membawa aroma segar alami dan sangat cantik. Melihat pemandangan ini, suasana hati pun ikut terasa lapang. Sampai sebuah satu jangkung berdiri di depannya, menutupi cahaya matahari. Cassandra mengangkat kepala dan langsung melihat wajah Faldano yang tampak tidak begitu baik. Kalimat pertamanya adalah, "Kamu mau membatalkan pertunangan?" "..." Nada menginterogasi macam apa ini? Cassandra berdiri dan membalas dengan senyum sinis. "Kenapa? Dari nada bicara Tuan Muda Faldano, sepertinya kamu nggak senang?" "Aku justru sangat senang!" Faldano refleks mengucapkan kalimat itu. Namun sebenarnya dia masih ingin bertanya tentang hubungan Cassandra dengan Victor. Adegan di depan pintu arena gelap, ketika Victor merangkul pinggang Cassandra dan naik mobil bersamanya, terus terbayang di benaknya! Meski dia tidak pernah menyukai Cassandra, bagaimanapun juga gadis itu adalah tunangan resminya. Berpelukan dengan pria lain, pantaskah itu? Sayangnya, sebelum sempat bertanya, Cassandra sudah berkata dengan nada seolah mengusir anjing, penuh jijik, "Sudah, kalau nggak ada urusan, kamu bisa pergi." Faldano, "..." Darah hampir naik ke tenggorokannya. Faldano nyaris mati karena kesal! "Ini rumahku!" "Oh." Cassandra menjawab santai, lalu berbalik dan pergi. Kebun seluas ini, mencari tempat yang tidak terlihat Faldano bukan perkara sulit. Dia pergi dengan begitu tegas, justru membuat Faldano semakin marah! Cassandra yang dulu tidak pernah berani menunjukkan sikap dingin padanya. Setiap kali, selalu dia yang pergi lebih dulu, sementara Cassandra mengejarnya dengan wajah penuh keluhan sambil memanggilnya, "Kak Faldano tunggu aku, tunggu aku!" Faldano tidak pernah menoleh. Namun sejak dua hari lalu, Cassandra tidak lagi menempel padanya seperti permen karet. Di matanya, tidak ada lagi cahaya penuh cinta, yang tersisa hanya ejekan, sindiran, dan ... kebencian. Dia benar-benar sebenci itu padanya? Faldano terpaku di tempat, menatap Cassandra yang semakin menjauh. Di bawah terik matahari, sosok gadis itu ramping dan anggun, memancarkan aura malas sekaligus berkelas. Setiap gerak-geriknya membuat sekitar kehilangan warna. Bahkan seluruh taman penuh bunga yang berlomba-lomba bermekaran pun tidak mampu menandingi ketenangannya saat berdiri di sana. Mengesampingkan rasa jijik dan prasangka masa lalu, Faldano harus mengakui kalau Cassandra memang cantik. Hanya saja .... Dia tidak menyukainya. Pertunangan ini, batal saja. Faldano berbalik dan pergi ke arah yang berlawanan. Namun, baru saja dia pergi, dari balik semak bunga muncul seorang gadis kecil berusia tiga belas tahun. Menatap punggung kakaknya yang menjauh, Bella Tanadi mengejar ke arah Cassandra pergi. Tak lama kemudian, dia sudah berdiri dengan angkuh di depan Cassandra, lalu berteriak sombong. "Kamu, berhenti!" "Ada urusan?" Cassandra melirik gadis kecil di depannya dengan tatapan meremehkan, terlihat agak tidak sabar. Gadis kecil ini adalah adik kandung Faldano, sangat suka cari perkara dan keras kepala. Berbicara pada siapa pun, nadanya selalu angkuh dan merendahkan. Dulu, saat Cassandra masih bodoh dan tidak berpikir jernih, dia bukan hanya harus menyenangkan Nyonya Wenda, tapi juga harus menyenangkan Bella. Oleh karena itu, dia selalu bersikap rendah diri. Bella pun sering sekali mencari masalah dengannya, bahkan pernah menyuruhnya meniru gonggongan anjing .... Mengingat masa lalu, sudut bibir Cassandra terangkat membentuk senyum yang sulit diartikan. Detik berikutnya, gadis kecil yang suka membuat keributan itu kembali dengan nada khasnya. Dia berkacak pinggang dan berkata, "Hei, barusan kamu bicara apa dengan kakakku? Aku kasih tahu ya, kalau mau masuk ke Keluarga Tanadi, kamu harus lolos dulu dariku dulu!" "Terus?" Cassandra merasa geli, nadanya santai dan acuh tidak acuh. Bella mengira Cassandra sedang mengalah, sehingga langsung menjadi semakin keterlaluan. "Nggak lihat tali sepatuku lepas? Cepat berlutut dan ikat tali sepatuku! Kalau nggak ... huh, aku akan bilang ke kakakku kalau kamu memukulku! Lihat nanti ...." "Plak!" Sebelum kalimatnya selesai, terdengar suara tamparan yang nyaring. Bella tertegun, lalu langsung menangis keras dan berteriak memanggil orang! Dia mengira Cassandra pasti akan takut. Namun Cassandra justru tampak tenang, ekspresinya biasa saja, tatapannya tetap dingin dan tajam. "Kamu masih kecil, aku nggak mau mempermasalahkan. Tapi kalau ke depannya kamu masih tetap sombong dan memandang rendah orang lain, suatu hari nanti, mulutmu yang menyebalkan itu pasti akan dijahit orang ...." Kalau belum dipukuli habis-habisan, tidak akan tahu diri. Setelah memberi peringatan, Cassandra langsung pergi. Mungkin karena nasibnya memang sedang buruk. Saat berjalan-jalan di area rumah rendah di bagian belakang manor itu, dia malah tersesat. Lalu, dia melihat ke dalam sebuah kamar. Di sana ada seorang pria dan seorang wanita yang sedang .... Cassandra langsung terpaku. Karena pria itu bukan orang lain, melainkan ayah Faldano, Renald! Pantas saja tadi tidak terlihat di aula depan. Rupanya ada di sini .... Rumah rendah ini kelihatannya adalah tempat tinggal para pelayan. Melakukan hal semacam ini di bawah pengawasan Nyonya Wenda, kalau sampai ketahuan, pasti akan menggegerkan! Apalagi kejadian seperti ini malah kebetulan dipergoki olehnya! Tanpa sadar, Cassandra mundur selangkah. Pikiran pertamanya adalah segera pergi! Dia datang untuk membatalkan pertunangan. Kalau ketahuan melihat hal seperti ini, jangankan membatalkan, urusan pernikahan ini pasti akan berantakan! Namun langit tidak berpihak padanya. Saat baru berbalik, tanpa sengaja dia menabrak pot bunga di dekat kakinya, menimbulkan suara yang nyaring! "Siapa?" Renald mendengar suara itu, jadi segera mengambil mantel dan bergegas keluar. Tamat sudah. Keringat dingin langsung mengalir di kepala Cassandra. Dia nekat ingin kabur. Namun tiba-tiba, sepasang tangan besar menariknya, menyeretnya masuk ke sebuah gudang kecil ....

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.