Bab 13
Aroma samar masuk ke ujung hidungnya.
Aromanya tetap harum seperti biasanya.
Cassandra terperanjat dan mendongak.
Tatapannya langsung bertemu dengan wajah tampan Victor, wajah yang tidak pernah bosan dilihat.
"Kenapa bisa kamu ...."
Cassandra refleks membuka mulut, namun detik berikutnya Victor sudah menutup mulutnya.
Dia merendahkan suara, membungkuk mendekat, lalu memberi isyarat diam.
Cassandra mengangguk.
Di luar gudang, Renald melihat sekeliling dan tidak menemukan siapa pun. Dia hanya melihat seekor anak kucing hitam, barulah dia merasa lega dan kembali ke kamar. Kali ini, dia tidak lupa mengunci pintu.
Sudah aman.
Cassandra mengembuskan napas panjang merasa lega.
Kalau sampai ketahuan di situasi seperti itu, benar-benar akan sangat canggung.
Untung saja Victor menariknya tadi.
Baru saja Cassandra hendak mengucapkan terima kasih, Victor sudah menggelengkan kepala dan mendekat sambil berbisik, "Kalau keluar sekarang akan ketahuan."
Gudang itu hanya dipisahkan satu dinding dengan kamar sebelah.
Walaupun Keluarga Tanadi adalah keluarga terpandang, tempat tinggal para pelayan tentu tidak mungkin dibuat dengan kualitas bagus. Peredam suaranya pun buruk. Jadi, suara-suara kecil dari sebelah semuanya masuk ke telinga Cassandra ....
Meski dia belum berpengalaman, bukan berarti dia tidak tahu apa-apa.
Apa yang sedang terjadi di sebelah, sudah jelas tanpa perlu dijelaskan.
Wajah Cassandra langsung memerah. Saking malunya sampai ingin menggali lubang untuk bersembunyi!
Karena pikirannya sepenuhnya dipenuhi rasa malu, dia tidak menyadari kalau saat ini dia sedang berada dalam pelukan Victor. Gudang itu sempit, jarak mereka sangat dekat. Detak jantung satu sama lain terdengar jelas.
Belum lagi aroma samar yang sesekali kembali menyentuh indra penciumannya ....
Victor menunduk dan melihat rambut Cassandra yang halus tergerai di lengannya, membuat kulitnya terasa geli.
Ditambah lagi wajah kecilnya yang memerah.
Entah kenapa, tiba-tiba dia ingin menggodanya. Dia mendekat dan berbisik sambil tersenyum, "Kenapa kamu begitu sial, selalu bertemu masalah?"
Begitu mendengar itu, Cassandra hampir menangis.
Dia juga tidak mau seperti ini.
Awalnya Faldano datang mencari perkara, lalu diadang Bella. Kakak beradik itu benar-benar musuh bebuyutannya, setiap bertemu pasti sial!
Jadi karena tidak tahu harus ke mana, dia malah berkeliaran dan justru bertemu kejadian seperti ini ....
Saat sedang memikirkan hal itu, Cassandra tiba-tiba menatap Victor dan bertanya dengan bingung, "Kalau kamu sendiri? Kenapa bisa kebetulan ada di sini?"
"Aku lewat."
"Lewat?"
Wajahnya penuh kecurigaan.
Victor mengangkat alis. "Sebagai paman Keluarga Tanadi, aku ada di sini nggak aneh, 'kan?"
Cassandra mengangguk.
Masuk akal juga.
Hanya saja, situasinya sekarang tidak tepat. Dia pun lupa, meskipun Victor sebagai paman Keluarga Tanadi memang tidak aneh muncul di sini, tapi muncul di tempat ini dan kebetulan menyelamatkannya, itu terlalu kebetulan.
Tentu saja, Victor tidak mungkin mengatakannya.
Dia sebenarnya mengikuti Cassandra sejak tadi.
Bukan karena apa-apa. Dia hanya ingin melihat kejutan macam apalagi yang bisa dibuat gadis ini.
Ternyata benar, mendengar suara dari ruangan sebelah benar-benar kejutan besar.
Cassandra berkata dengan sangat tulus, "Maaf ya, aku jadi menyeretmu dalam masalah ini."
Dia hanya pernah membantunya membalut luka di hutan waktu itu. Sebenarnya, meski tanpa dirinya, orang-orang Keluarga Zemandes datang cukup cepat, Victor juga tidak akan celaka.
Namun tindakan kecil yang agak berlebihan dan penuh maksud itu justru membuat Victor berkali-kali menyelamatkannya!
Cassandra tidak bisa tidak mengakui kalau dia benar-benar sudah mendapatkan satu dukungan yang sangat kuat!
"Nggak apa-apa."
Victor tertawa pelan menanggapi permintaan maafnya.
Keduanya pun terdiam. Namun di dalam gudang kecil yang sempit itu, suhu perlahan-lahan meningkat ....
Hanya terpisah oleh satu dinding, suara itu terdengar begitu jelas hingga membuat orang berimajinasi.
Cassandra merasa sangat canggung. Dia mendongak dan melirik Victor sekilas.
Namun dia justru mendapati pria itu sejak awal memang terus menatapnya.
Sepasang mata hitamnya dalam seolah tak berujung. Terlebih lagi alis tegasnya dipadu wajah tampan yang nyaris membuat dewa pun iri. Jika menatapnya beberapa detik lebih lama saja, jantung pasti akan berdebar tidak terkendali.
Barulah saat ini Cassandra sadar kalau dia sepenuhnya berada dalam pelukan Victor!
Posisi ini terlalu intim dan ambigu.
Dia panik. Kakinya refleks hendak mundur, namun tiba-tiba dari luar terdengar suara pintu dibuka!
Cassandra tidak berani mengeluarkan suara, hanya bisa terus meringkuk dalam pelukannya, tidak bisa bergerak sama sekali.
"Tunggu sebentar lagi. Dia akan segera pergi."
Victor berbisik di dekat telinganya untuk menenangkannya.
Namun justru kalimat sederhana itu membuat telinga Cassandra langsung memerah.
Jarak mereka memang sangat dekat. Suara rendah Victor yang masuk ke telinganya, terasa begitu menggoda. Dia bahkan bisa merasakan embusan napas Victor saat berbicara, menyentuh lehernya dan membuat jantungnya berdegap kencang ....
Beberapa menit kemudian, dari luar terdengar suara kepala pelayan memanggil-manggil Renald, disusul suara orang mengenakan pakaian dengan tergesa. Akhirnya, Renald pun pergi.
Akhirnya bisa keluar!
Cassandra menghela napas lega dan segera menjauh dari pelukan Victor.
"Terima kasih, aku ... aku pergi dulu."
Bagaimanapun ini adalah rumah Keluarga Tanadi. Kalau sampai ada orang melihat dia dan Victor berpelukan seperti ini, nanti pasti susah dijelaskan.
Dia langsung kabur secepat kilat.
Victor tetap berdiri di tempat. Setelah cukup lama, barulah dia tertawa pelan.
Gadis kecil itu cukup harum.
...
Saat Cassandra sengaja berlama-lama hampir setengah jam sebelum kembali ke aula utama rumah Keluarga Tanadi, dia melihat orang tuanya seolah sudah mencapai kesepakatan dengan Keluarga Tanadi.
Jadi mereka pun bangkit untuk pamit.
Di dalam mobil menuju pulang, Cassandra menahan rasa gelisah dan bertanya, "Ayah, Ibu, bagaimana? Jadi dibatalkan nggak?"
Maxi dan Deasy saling berpandangan, raut wajah mereka terlihat ragu.
Hati Cassandra langsung mencelos.
"Ayah, Ibu, ceritakan padaku. Bagaimana situasinya?"
"Keluarga Tanadi setuju soal pembatalan pertunangan, tapi ada batas waktunya."
Maxi menghela napas, lalu melanjutkan, "Satu tahun. Kalau setelah satu tahun kalian masih bersikeras membatalkannya, maka pernikahan ini langsung dianggap batal."
Cassandra sama sekali tidak menyangka hasilnya akan seperti ini.
Keluarga Tanadi jelas-jelas memandang rendah dirinya, itu fakta. Sekarang dia sendiri datang membatalkan pertunangan, bukankah seharusnya mereka senang? Kenapa malah ingin menahannya dengan alasan satu tahun?
Maxi tersenyum pahit. "Nak, Ayah tahu kamu sudah mengambil keputusan kali ini. Tapi nggak ada cara lain. Keluarga Tanadi punya kekuatan besar dan kuat. Mereka bahkan nggak segan menekanku lewat cara-cara bisnis ...."
Justru karena itulah, dia terpaksa menyetujuinya.
Cassandra mengangguk, lalu berbalik menenangkan mereka. "Nggak apa-apa. Hanya satu tahun saja, aku bisa menunggu."
Mungkin ....
Tidak perlu selama itu.
Dalam ingatan kehidupan sebelumnya, paling lama setengah tahun, wanita idaman Faldano akan muncul!
Saat itu tiba, bahkan tanpa perlu dia berbuat apa-apa, Faldano sendiri pasti akan melawan keluarganya dan membatalkan pertunangan dengannya demi wanita yang dicintainya ....
Tunggu saja!