Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 14

Melihat Cassandra tidak menangis atau membuat keributan seperti yang mereka bayangkan, pasangan suami istri Keluarga Nesmir akhirnya bisa bernapas lega. "Syukurlah kamu nggak menyalahkan kami." Kadang kenyataan memang seperti ini. Keluarga Tanadi terlalu berkuasa, tidak bisa disinggung, jadi hanya bisa menelan ketidakadilan itu. Cassandra tersenyum tipis. "Mana mungkin." Dia bukan hanya tidak marah, malah sedikit menantikannya. Di kehidupan sebelumnya, justru karena kemunculan wanita idaman itu, Faldano membujuknya dengan segala kata manis dan menjadikannya kambing hitam. Di kehidupan ini, dia tidak akan sebodoh itu lagi. Jadi bagaimana kelanjutannya nanti, bahkan dia sendiri juga tidak tahu. Cassandra tenggelam dalam pikirannya, sampai Deasy melambaikan tangan di depan wajahnya, barulah dia tersadar. "Apa yang kamu pikirkan? Ibu tanya dua kali nggak dijawab." "Hah? Ibu bilang apa?" "Ibu tanya, tadi waktu kamu jalan-jalan di taman belakang, nggak ada orang Keluarga Tanadi yang menyulitkanmu, 'kan?" "..." Kalau tidak disebut, masih tidak apa-apa. Begitu mendengar itu, Cassandra langsung teringat kejadian di gudang. Wajah tampan yang bersih itu, mata yang dalam dan hitam itu, serta senyum Victor saat dia menunduk menatapnya .... Selesai sudah, dia benar-benar keracunan. Kenapa yang terus terbayang di kepalanya hanya adegan-adegan seperti itu! Dia diam-diam mencubit dirinya sendiri, lalu di bawah tatapan penuh selidik orang tuanya, dia berkata, "Nggak ada. Baik-baik saja. Malah sempat menonton pertunjukan yang cukup seru ...." Untungnya Maxi dan istrinya bukan tipe yang suka mengorek terlalu jauh, jadi mereka tidak bertanya lagi. ... Urusan Keluarga Nesmir datang untuk membatalkan pertunangan seharusnya selesai begitu saja. Namun entah siapa yang membocorkannya. Kota Lumora tidak besar, kalangan atasnya juga itu-itu saja. Kabar menyebar dari satu ke sepuluh, dari sepuluh ke seratus, hingga akhirnya semua orang tahu. Hanya saja, dalam proses penyebaran itu, fakta kalau Keluarga Nesmir ingin membatalkan pertunangan tapi dihalangi Keluarga Tanadi berubah menjadi versi, Keluarga Tanadi ingin membatalkan pertunangan, sementara Keluarga Nesmir tidak tahu malu dan tidak mau melepaskannya! Akibatnya, banyak orang marah dan mulai mencaci. "Cassandra benar-benar nggak tahu malu. Calonnya sudah mau membatalkan pernikahan, dia malah memakai ancaman bunuh diri supaya nggak dibatalkan!" "Benar! Aku sangat kasihan dengan Tuan Muda Faldano. Dapat wanita seperti itu, benar-benar sial delapan turunan!" "..." Saat Cassandra masuk sekolah hari Senin, telinganya dipenuhi omongan-omongan seperti itu. Sejak awal dia memang sudah dikucilkan di kelas, sekarang malah jadi musuh bersama seluruh siswi sekolah! Namun dia tidak peduli, tetap makan dan minum seperti biasa, seolah tidak terpengaruh sedikit pun. Saat Faldano mendengar gosip-gosip ini, awalnya dia ingin membantunya meluruskan. Namun begitu teringat sikap Cassandra yang dingin dan acuh padanya, dia pun malas membuka mulut. Pertunangan belum batal, Faldano sendiri juga merasa aneh. Semalam, orang tuanya bahkan dengan sungguh-sungguh menasihatinya agar memperlakukan Cassandra dengan lebih baik. Dari kata-kata mereka, jelas ada niat untuk menikahkan Cassandra masuk ke Keluarga Tanadi .... Semakin mereka mengatakannya, semakin dia membenci diatur dan semakin ingin memberontak. Biarkan saja gosip ini dulu. Tunggu sampai Cassandra datang memohon padanya, baru dia akan turun tangan menjelaskan. Sayangnya, selama tiga hari berturut-turut, dia tidak menemukan Cassandra datang mencarinya. Jadi sikap diamnya itu justru dianggap sebagai bentuk persetujuan. Orang-orang yang diam-diam ingin mencari masalah dengan Cassandra semakin banyak. Semuanya mengatasnamakan membela Faldano dan menggunakan berbagai cara untuk menyerangnya Cassandra! Siang hari itu, di kantin sekolah. Cassandra selesai makan seorang diri dan baru hendak bangkit untuk mengembalikan piring, ketika tiba-tiba seorang gadis berambut panjang berjalan menghampiri dan menabraknya. Kuah berminyak yang ada di tangan gadis itu pun, entah kebetulan atau memang disengaja, seluruhnya tumpah ke kaki Cassandra .... Berminyak, lengket. Tawa mengejek langsung terdengar di sekeliling, bahkan ada yang diam-diam mengacungkan jempol ke arah gadis berambut panjang itu. "Aduh, maaf ya, tanganku terpeleset," Mulutnya meminta maaf, tapi sikapnya penuh kesombongan. Dia mengira dengan meminta maaf semuanya akan selesai dan langsung hendak pergi. Siapa sangka Cassandra justru mencengkeram lengannya. "Aku sudah minta maaf, kamu masih mau apa lagi?" Gadis itu mengerutkan kening, berusaha melepaskan diri, tapi tidak bisa. Cassandra tertawa pelan. Dalam sekejap dia menekan kepala gadis itu, menyeretnya ke arah tong sampah. Kaki dan tangannya bergerak bersamaan. Gadis itu pun dilempar masuk ke tong sampah dengan posisi terjungkal! Itu adalah tong besar untuk menampung sisa makanan. Bau dan tingkat menjijikkannya jelas jauh lebih parah dibanding kuah berminyak tadi! Di bawah tatapan kaget semua orang, Cassandra justru tersenyum dengan ekspresi penuh penyesalan. "Ah, maaf ya, tanganku juga terpeleset." Semua orang, "..." Hantu pun tidak akan percaya! Kalau sudah ada orang pertama yang berani maju, pasti akan ada yang kedua. Sore harinya, Cassandra pergi ke toilet. Saat kembali, di dalam mejanya sudah ada seekor ular yang menjulurkan lidah. Siapa pun yang asal mengambil buku dari laci lalu tanpa sengaja memegang seekor ular, pasti akan menjerit histeris. Paling tidak, wajahnya pasti pucat ketakutan. Namun Cassandra hanya tertegun sesaat. Dia langsung menjepit kepala ular itu dan mencabut taring tajam ular hijau tersebut dengan tangan kosong! Mencabut gigi ular dengan tangan kosong, ekspresinya tetap tenang! Punggung semua orang langsung terasa dingin! Belum sempat mereka pulih dari keterkejutan itu, Cassandra sudah melempar ular tersebut begitu saja! Dalam sekejap, satu kelas langsung kacau. Teriakan dan kepanikan di mana-mana. Di tengah kekacauan itu, hanya Cassandra yang tetap duduk tenang di tempatnya. Bahkan jika gunung runtuh di hadapannya, raut wajahnya tetap tidak berubah. Butuh waktu lama sampai ular itu akhirnya dikeluarkan. Semua orang masih diliputi rasa takut. Cassandra langsung naik ke podium. Tatapan matanya yang dingin menyapu wajah mereka satu per satu, lalu dia tersenyum meremehkan dan berkata perlahan. "Terus terang saja, kalian semua di sini hanya pecundang. Ke depannya, kalau masih ada yang mau main, aku layani. Tapi yang nggak sanggup, nanti kalau ketemu aku, ingat panggil ayah dengan patuh." Seluruh kelas langsung senyap. Sombong! Ucapan Cassandra yang begitu merendahkan orang lain ini benar-benar keterlaluan! Tapi ... ada yang berani membantah? Tidak ada! Berbagai trik kotor sudah mereka lakukan, tapi Cassandra tidak pernah sekalipun dirugikan! Mau adu kejam? Dia menghajar mereka bergiliran, mengajari mereka menjadi manusia lagi dalam hitungan menit! Masih ada orang bodoh yang mau cari masalah dengannya? Tidak ada lagi. Di bawah kekejaman Cassandra, semua rencana kecil pun langsung padam. Tidak ada lagi yang berani tidak tahu diri mencari gara-gara dengannya. Bahkan gosip-gosip pun perlahan mereda. Faldano melihat semua ini dengan mata kepalanya sendiri. Sama sekali berbeda dari bayangannya tentang tangisan dan kepanikan. Cassandra bukan hanya tidak meneteskan setetes air mata pun, tapi juga mengatasi semua serangan dengan kekuatan dirinya sendiri! Untuk sesaat, Faldano merasa linglung. Segala pemahamannya tentang Cassandra, entah sejak kapan, terus menerus terbalik dan runtuh! Dia belum sempat memikirkannya lebih jauh, ketika pengumuman pembagian asrama keluar. Begitu dibuka, Faldano langsung terpaku. Dia ternyata ... dibagi satu kamar dengan Cassandra!

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.