Bab 15
Ada apa ini?
Bagaimana bisa ada pembagian yang begitu tidak masuk akal?
Faldano benar-benar bingung.
Saat ini sudah bulan Juni. Karena liburan musim panas sudah dekat, semua pelajaran menjadi padat. Sebelumnya mereka masih boleh santai dan bebas pulang, tapi bulan terakhir ini wajib tinggal di asrama untuk persiapan ujian.
Tinggal di asrama memang kewajiban, tapi disuruh tinggal bersama Cassandra ....
Apa tidak salah nama?
Setelah lama Faldano baru tersadar dan dia spontan menganggap semua ini ulah Cassandra!
Mulutnya bilang mau memutuskan pertunangan, tapi entah cara apa yang dipakainya sampai orang tuanya mati-matian tidak mau setuju!
Sekarang malah muncul di kehidupannya dengan cara seperti ini, menyusup ke mana-mana, jelas-jelas ingin menarik perhatiannya dan menciptakan kesempatan bersama!
Begitu memikirkan hal itu, Faldano langsung merasa mual!
Dia pun langsung membanting pemberitahuan pembagian itu ke meja Cassandra, menahan amarah sambil bertanya, "Ini semua kamu yang atur, 'kan? Hebat sekali caramu, Cassandra. Aku benar-benar meremehkanmu!"
"..."
Cassandra melirik pemberitahuan itu dan langsung paham apa yang terjadi.
Dia memang tidak tahu siapa yang mengatur mereka tinggal bersama, tapi Faldano jelas menimpakan semuanya ke kepalanya.
Entah kenapa bajingan ini bisa sebegitu jagonya berhalusinasi!
Melihat wajah Faldano yang menghitam, Cassandra sampai tertawa kesal.
"Kamu ini bunga langka jenis apa, sampai segitu narsis? Daripada datang tanya aku, lebih baik pulang dan tanya orang tuamu sendiri."
Kalau pengaturan ini tidak ada restu dari pasangan Keluarga Tanadi, siapa lagi yang bisa melakukannya?
Sejak penolakan pembatalan pertunangan, Cassandra sendiri sudah penuh tanda tanya.
Apa sebenarnya yang dilihat Keluarga Tanadi darinya? Jelas-jelas selama ini mereka tidak menyukainya, tapi tetap bersikeras menolak pembatalan pertunangan, bahkan sampai mengancam Keluarga Nesmir!
Setelah berkata begitu, Cassandra melotot ke arah Faldano dan mengusirnya. "Kamu menutupi cahayaku. Pergi sana, nggak perlu diantar."
"..."
Entah sudah yang keberapa kalinya dibuat malu, Faldano menggertakkan gigi lalu pergi meninggalkan kelas dengan marah.
Kali ini, Agatha tidak ikut-ikutan menekan Cassandra. Sejak Cassandra menghajar semua orang, dia sudah belajar dari pengalaman dan memilih menjauh.
Sejak wajahnya pernah dipukuli sampai bengkak oleh Cassandra, Agatha belajar untuk bersabar.
Dia harus memastikan dirinya tidak membuat kesalahan dan menunggu dengan sabar sampai rencana ayahnya berhasil!
Saat itu tiba, kesabaran hari ini akan berubah menjadi kesombongan di masa depan!
Namun hari ini ....
Isi pembagian kamar itu benar-benar menusuk hatinya!
Membiarkan Cassandra dan Faldano tinggal di satu ruangan?
Bagaimana kalau Faldano benar-benar jatuh hati pada Cassandra? Lalu apa yang tersisa untuknya?
Saat Agatha masih bimbang, Cassandra malah menepuk bahunya dan berkata, "Kak Faldano-mu sudah pergi, nggak cepat dikejar?"
"Apa maksudmu?"
Agatha menatapnya curiga.
Mana mungkin dia tiba-tiba sebaik ini?
Mengabaikan kewaspadaan di wajah Agatha, Cassandra tersenyum setengah mengejek dan memberinya jalan keluar. "Kalau pengaturannya nggak bisa diubah, bukankah masih bisa tambah satu orang lagi untuk tinggal bersama ...."
Cukup sampai di situ.
Karena ini sudah diatur oleh Keluarga Tanadi, hasilnya pasti tidak akan berubah.
Tinggal satu atap dengan Faldano, Cassandra jelas menolaknya.
Kalau begitu, lebih baik sekalian saja mengatur agar Agatha masuk ke sini. Siapa tahu saat wanita idaman Faldano muncul nanti, dia masih bisa menonton pertunjukan yang seru.
Begitu mendengar itu, mata Agatha langsung berbinar.
Benar juga! Kalau dia bisa ikut tinggal bersama, selain bisa mencegah sesuatu terjadi antara Cassandra dan Faldano, dia juga bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Faldano!
Satu langkah dua tujuan tercapai!
Setelah memikirkannya matang-matang, Agatha tidak peduli lagi pada hal lain. Dia langsung berlari keluar kelas, mengejar Faldano.
Cassandra menopang kepalanya, lalu menguap malas.
Dia tahu Agatha pasti akan berhasil. Kalau kemampuan sekecil ini saja tidak punya, bagaimana mungkin di kehidupan sebelumnya dia bisa menipu semua orang dengan wajahnya yang tampak penuh pengertian itu?
Benar saja, dua jam kemudian, nama Agatha muncul di daftar pembagian asrama.
Pembagian ini dilakukan dengan sangat cepat. Setelah kelas sore berakhir, semua siswa kembali ke asrama masing-masing sesuai pengaturan untuk membereskan barang. Bagaimanapun ini adalah sekolah bangsawan swasta, fasilitasnya sangat baik. Segalanya sudah diatur dengan rapi. Seprai, selimut, hingga kebutuhan harian, semuanya baru.
Cassandra dan Faldano ditempatkan di asrama bergaya apartemen, dua lantai, dan kebetulan ada tiga kamar.
Dua kamar di lantai atas, satu kamar di lantai bawah.
Begitu masuk, Cassandra dengan santai memilih kamar terbesar dan terbaik di lantai dua.
Dia bukan tipe orang yang mau menyusahkan diri sendiri.
Faldano sebenarnya ingin menyerahkan kamar lantai atas pada Agatha, namun langsung dicegah oleh kepala pelayan yang mengawasinya. "Tuan Muda, Nyonya sudah berkompromi sejauh ini. Tolong jangan mempersulit kami lagi."
Meski Agatha merasa tidak rela, ini adalah hasil yang susah payah dia perjuangkan. Dia tidak berani membuat keributan lagi. Dia pun menatap Faldano dengan penuh perasaan, lalu berkata dengan penuh pengertian, "Kak Faldano, nggak apa-apa. Asal setiap hari bisa melihatmu, itu sudah cukup ...."
"Baiklah."
Akhirnya, Cassandra dan Faldano tinggal di lantai dua. Dua kamar mereka bersebelahan. Bahkan kalau menoleh sedikit, masih bisa melihat balkon kamar satu sama lain.
Cassandra tidak ingin melihat kemesraan dua orang di bawah, jadi langsung kembali ke kamarnya dan menutup pintu, lalu mulai merapikan kamar tanpa terpengaruh sedikit pun.
Kamar itu bersih dan rapi, sebenarnya tidak ada yang perlu dibereskan. Namun demi berjaga-jaga, dia tetap memeriksa dengan teliti, memastikan tidak ada kamera tersembunyi atau semacamnya.
Untungnya, tidak ada apa-apa.
Baru saja Cassandra duduk, dia menerima telepon dari Paman Johan.
Paman Johan adalah pemegang saham lama di Grup Nesmir, sekaligus satu-satunya orang di kehidupan sebelumnya yang pernah mengulurkan tangan membantu Keluarga Nesmir saat mereka jatuh. Orang ini benar-benar bisa dipercaya.
Kali ini pun, Cassandra yang meminta Paman Johan untuk diam-diam membantu dan mengawasi paman keduanya, Felix, di dalam perusahaan.
Sekarang, tampaknya sudah ada kabar.
Cassandra mengangkat telepon. "Halo, Paman Johan, bagaimana keadaannya?"
"Lancar. Seperti yang kamu duga, dia benar-benar terpancing. Transaksinya malam ini jam sembilan, lokasinya di Bar Aurora."
Setelah berkata demikian, Paman Johan tidak bisa menahan diri untuk menghela napas. "Kamu ini, Nak. Kenapa urusan sebesar ini harus disembunyikan dari ayahmu? Kerugian seperti ini bukan hal sepele."
"Aku tahu. Aku akan mengurusnya dengan baik. Terima kasih, Paman Johan. Sudah merepotkan Paman."
Setelah itu, dia masih menambahkan pujian manis bertubi-tubi. Paman Johan di seberang telepon sampai tertawa dibuatnya dan akhirnya tidak mengatakan apa-apa lagi.
Setelah menutup telepon, sudut bibir Cassandra sedikit terangkat.
Setelah menunggu begitu lama, akhirnya saat itu tiba.
Sejak terakhir kali dia tidak sengaja mendengar pembicaraan Agatha dan ibunya, dia sudah tahu apa sebenarnya yang ingin mereka lakukan.
Dalam ingatan kehidupan sebelumnya, tepat di waktu seperti ini, Felix yang menjabat sebagai wakil kepala bagian pengadaan di Grup Nesmir menggelapkan uang dan bermain kotor. Dalam satu transaksi, dia menelan 120 miliar dari Grup Nesmir!
Uang 120 miliar itu awalnya digunakan untuk membeli baja. Namun Felix menggantinya dengan baja uji coba, yang akhirnya menyebabkan kecelakaan proyek serius. Tiga pekerja tewas dan perusahaan pun digugat oleh pihak pemberi tender!
Akibat kejadian itu, reputasi Grup Nesmir anjlok, harga saham jatuh drastis! Maxi dicaci maki oleh banyak orang dan kerugiannya sangat besar!
Lalu bagaimana dengan Felix yang menelan 120 miliar itu?
Dia berlutut di depan Maxi sambil menangis, mengaku dirinya hanya kurang pengalaman dan ditipu orang. Air mata dan penyesalan ditampilkan dengan sempurna!
Yang paling menyebalkan, Maxi benar-benar memercayainya ....
Paman Johan sempat bertanya lewat telepon, kenapa Cassandra tidak mengungkapkan hal ini langsung pada ayahnya. Sebenarnya alasannya ada di sini.
Hanya bicara, memangnya ada gunanya?
Sedangkan dirinya, mana mungkin membiarkan Felix berhasil dengan mudah?