Bab 17
Di masa lalu, Felix tidak akan berani mengucapkan kalimat seperti itu.
Pertama, karena istrinya Tere mengawasinya dengan ketat. Kedua, karena dompetnya kosong, tanpa uang, mana ada nyali buat pamer?
Tapi sekarang berbeda. Dia sudah punya ratusan miliar. Mau mengajak dua wanita menemani semalam, kenapa tidak? Hanya keluar sedikit uang, lagi pula, uangnya melimpah sekarang!
Kedua wanita itu tertawa genit, suaranya manja. Mereka mendorongnya pelan sambil menggerutu. "Ih, kamu sangat menyebalkan."
Mulut boleh berkata begitu, tapi tubuh mereka justru bersandar ke dada Felix.
Tidak menyangka semuanya berjalan semulus ini, Felix semakin bersemangat!
Benar kata orang, uang bisa menggerakkan segalanya! Selama bertahun-tahun dia berpura-pura jadi pecundang di depan Maxi, akhirnya hari ini dia bisa mengangkat kepala!
Sebelumnya, Felix masih sempat khawatir. Dia takut jalan menyimpang ini kalau sampai terbongkar akan sulit dibereskan. Namun dengan kehangatan dua wanita di pelukannya, sisa-sisa kekhawatiran itu langsung lenyap!
Mereka bertiga naik taksi menuju hotel terdekat.
Felix tidak pernah merasa segirang ini seumur hidupnya!
Hingga keesokan harinya saat matahari sudah tinggi, dia terbangun setengah sadar. Dia meraih ke samping, namun yang dia raih hanyalah udara kosong.
Begitu membuka mata, dia mendapati kamar itu hanya tersisa dirinya seorang ...
Kedua wanita itu sudah pergi?
Felix sedikit heran. Namun mengingat kejadian semalam, dia langsung kembali bersemangat. Tanpa sadar dia bersenandung kecil, lalu menyalakan sebatang rokok.
Saat rokok tinggal setengah, dia seolah teringat sesuatu. Jadi mendadak bangkit dan membongkar tas dokumennya. Namun menemukan tasnya kosong ....
Kontrak yang sudah ditandatangani atas namanya itu hilang.
Saat dia mengecek rekening banknya lagi, uang 120 miliar yang masuk ke kantong pribadinya saat transaksi kemarin kini lenyap tanpa jejak!
Wajah Felix seketika pucat pasi. Dia jatuh terduduk ke lantai dengan kencang.
Rokok di tangannya terjatuh ke karpet hotel, membakar sebuah lubang kecil, namun dia sama sekali tidak menyadarinya.
Saat ini, di kepala Felix hanya ada satu pikiran.
Itu adalah ....
Habislah.
Semuanya sudah selesai.
...
Pada malam pertama tinggal di asrama, Cassandra tidur dengan sangat nyenyak.
Dia bahkan sempat bermimpi.
Dalam mimpinya, dia memegang cambuk dan mencambuki Agatha serta Faldano semalaman penuh!
Sampai lengannya pegal dan nyeri, dia malah ingin tertawa terbahak-bahak.
Namun ....
Victor entah tiba-tiba muncul dari mana. Dia menggenggam tangan Cassandra, wajahnya penuh niat membunuh, lalu berkata, "Siapa yang memberimu nyali, berani menyentuh orangku?"
Setelah itu, dia langsung mengulurkan tangan mencekik lehernya!
Cassandra langsung terbangun dengan kaget.
Setelah bangun, jantungnya masih berdegap kencang.
Kalau bukan karena mimpi ini, dia hampir saja lupa kalau Victor adalah paman Faldano. Dibandingkan dirinya yang orang luar, mereka jelas satu keluarga yang kompak dan saling melindungi!
Kalau suatu hari nanti dia benar-benar mulai berurusan dengan Faldano, bisa jadi Victor yang sekarang masih mau membantunya, justru akan berubah menjadi musuh di pihak lawan ....
Cassandra duduk dan menarik napas dalam-dalam beberapa kali.
Sudahlah, mimpi tetaplah mimpi. Siapa yang bisa memastikan apa yang akan terjadi di masa depan?
Lagi pula, dia memang tidak terlalu dekat dengan Victor. Beberapa kali pertemuan pun karena dia sengaja mendekat. Kalau suatu hari nanti benar-benar bermusuhan, pihak sana juga tidak berutang apa pun padanya.
Setelah mencuci muka, Cassandra pun melupakan mimpi itu.
Melihat waktu sudah hampir pas, dia membuka pintu dan keluar.
Kebetulan sekali, Faldano yang tinggal di kamar sebelah juga keluar dari kamarnya pada saat yang sama.
Keduanya berpapasan.
Cassandra menatap lurus ke depan, langsung turun ke bawah tanpa menyapa sedikit pun.
Melihat punggungnya yang pergi tanpa ragu, Faldano justru mengerutkan kening.
Dulu, setiap kali Cassandra melihatnya, gadis itu pasti akan berlari riang mengelilinginya. Matanya berbinar-binar, wajahnya ceria, dan memanggilnya Kak Faldano dengan manja.
Tapi sekarang ....
Bahkan lebih buruk daripada orang asing.
Perbedaan yang begitu besar ini membuat Faldano tanpa berpikir panjang bertanya, "Kamu tadi malam pergi ke mana?"
Tadi malam dia kembali ke asrama lebih lambat dari Cassandra. Saat masuk kamar, dia kebetulan melihat dari jendela sosok Cassandra meninggalkan sekolah. Saat dia kembali lagi, hari sudah menjelang subuh.
Mendengar itu, Cassandra bahkan tidak menoleh. Dia hanya melemparkan satu kalimat. "Bukan urusanmu."
"Kamu ...."
Faldano masih ingin berkata sesuatu, tapi Agatha sudah masuk ke apartemen sambil membawa sarapan. Dia menengadah dan tersenyum padanya, "Kak Faldano, turun makan sarapan. Ada pie telur kesukaanmu! Aku antre lama sekali baru dapat!"
Saat ini, Cassandra sudah berjalan jauh.
Semua kata yang ingin diucapkan Faldano pun hanya bisa ditelan kembali.
Namun Agatha paling pandai membaca ekspresi orang. Saat melihat wajah Faldano yang tampak kurang baik, dia bertanya dengan khawatir, "Kak Faldano, ada apa? Nggak enak badan, ya? Kenapa rona wajahmu tampak kurang bagus ...."
Setelah berpikir sejenak, Faldano tetap tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Agatha, kakakmu sering keluar malam. ya?"
"Eh ...."
Agatha tertegun sejenak, lalu langsung waspada.
Kalau dipikir-pikir, ini adalah pertama kalinya Faldano bertanya tentang Cassandra padanya.
Ini jelas bukan pertanda baik.
Sorot mata Agatha berkilat, lalu dia pun berbicara dengan ragu-ragu, wajahnya penuh penyesalan.
"Ya, Kakak sering keluar malam. Aku sering menasihatinya, tapi dia nggak mau dengar. Dia sering minum dan ke bar bersama anak berandal nggak jelas di luar sana. Aku benar-benar khawatir dia sebagai wanita akan tertipu dan dirugikan ...."
Keluarga Tanadi sangat konservatif. Hal-hal seperti ini paling tidak bisa mereka terima.
Benar saja, setelah dia selesai bicara, wajah Faldano semakin masam.
Kak Faldano, kenapa tiba-tiba tanya soal ini?
Nggak apa-apa, hanya asal tanya saja.
Melihat ekspresi jijik di wajah Faldano, Agatha tetap terlihat tenang di luar, namun di dalam hatinya dia tersenyum puas.
Setinggi apa pun jalan kebenaran, masih ada jalan setan yang lebih licik.
Selama dia ada di sini, Cassandra jangan pernah berharap bisa bangkit!
...
Beberapa hari berikutnya berlalu dengan cukup tenang. Sampai hari Jumat tiba, akhirnya mereka boleh meninggalkan sekolah dan pulang ke rumah.
Sopir Keluarga Nesmir sudah menunggu sejak pagi di gerbang.
Saat Cassandra dan Agatha tiba di rumah, Deasy sudah menyuruh dapur menyiapkan satu meja penuh hidangan, sangat melimpah.
"Akhirnya pulang juga." Deasy memandang putrinya dengan ekspresi campur aduk antara sayang dan khawatir. "Cassandra, di sekolah nggak ada yang mengganggumu, 'kan? Makan dan tinggalnya nyaman?"
Dia benar-benar memperlakukannya seperti anak kecil.
Cassandra tersenyum getir. "Tenang saja, Ibu. Aku baik-baik saja, nggak perlu khawatir."
Syukurlah. Belajar itu penting, tapi jangan memberi tekanan terlalu besar pada diri sendiri. Ingat jaga kesehatan. Deasy tetap tidak lupa berpesan.
Sebaliknya, Bryan melihat kakaknya pulang, dia diam-diam mendekat dan berbisik, "Kak, minggu depan aku ada lomba. Kakak mau datang menonton nggak?"
"Tentu saja."
Cassandra langsung menyetujuinya, lalu bertanya, "Lomba apa?"
Dia mengira paling-paling lomba olimpiade matematika atau lomba menulis. Namun tidak disangka Bryan justru melontarkan kalimat yang mengejutkan.
"Lomba peringkat peretas."
"???"
Begitu mendengar itu, Cassandra hampir melompat dari sofa.
Sejak kapan bocah ini punya bakat menjadi peretas dan kenapa dia sama sekali tidak tahu?
Melihat reaksinya, Bryan sigap menahannya sambil berbisik, "Ini rahasia. Nggak boleh bilang ke Ayah dan Ibu!"
"Baik."
Meski terkejut, tapi dia menerimanya dengan cukup cepat.
Bryan menutup mulutnya, lalu menjatuhkan satu bom lagi. "Oh ya, waktu itu komputer Faldano juga aku yang retas."