Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 18

Begitu mendengar itu, Cassandra kembali terkejut! Dia tahu soal komputer Faldano yang pernah diretas. Katanya banyak data penting yang hilang. Karena kejadian itu, Faldano sampai hampir muntah darah karena marah! Waktu itu Cassandra bahkan sempat bertepuk tangan kegirangan. Namun dia sama sekali tidak tahu kalau orang di balik peretasan komputer Faldano ternyata Bryan! "Kamu ...." Adiknya ternyata harta karun tersembunyi! Setelah mencerna beberapa detik, Cassandra baru bertanya, "Kapan kamu belajar semua ini? Siapa yang ajari?" Bryan berkedip, lalu balik bertanya dengan wajah polos, "Memangnya susah?" "..." Sangat hebat, sangat kuat. Benar-benar adik kandungnya! Hatinya berbunga-bunga, Cassandra memeluk adiknya lalu menciumnya sekali, sambil berkata senang, "Bagus. Mulai sekarang Kakak serahkan tugas berbuat jahat padamu." Kalau mengikuti alur normal, sebagai kakak, bukankah seharusnya dia sekarang menasihati adiknya panjang lebar, mengingatkannya kalau meski punya kecerdasan seperti ini, tidak boleh disalahgunakan karena bisa menimbulkan masalah besar dan seterusnya? Namun ... Cassandra sama sekali tidak mengikuti pakem. Lebih parahnya lagi, Bryan si pemuja kakak ini sama sekali tidak merasa ada yang aneh, malah mengangguk dengan sungguh-sungguh. "Baik, Kakak. Nggak masalah!" "Kabarnya Faldano demi persiapan ujian minggu depan, sudah banting tulang menyusun banyak materi penting dan soal-soal simulasi yang siap dibagikan ...." Cassandra mengusap dagunya sambil bergumam, lalu menatap Bryan. Kakak beradik itu saling berpandangan dan tersenyum nakal. Masih perlu bicara apa lagi? Retas komputernya! Bobol sampai habis! Setelah bicara diam-diam, Maxi pun pulang dari kantor. Seluruh Keluarga akhirnya lengkap dan duduk bersama dengan suasana hangat untuk makan malam. Cassandra duduk di meja makan, sambil memainkan peralatan makan di depannya dengan bosan, tapi pandangannya menyapu keluarga tiga orang di seberang. Tere dan Agatha seperti biasa, tersenyum sopan dan duduk rapi. Sedangkan Felix .... Sejak awal sampai akhir terlihat gelisah, pandangannya kosong, seolah sudah terkuras habis. Cassandra tersenyum kecil, jarang-jarang dia peduli dan bertanya, "Paman Felix kelihatannya ... rona wajahmu kurang bagus. ya?" "Hehe ... nggak apa-apa, mungkin sedikit masuk angin," jawab Felix dengan senyum kaku. Cassandra mengangguk pelan dan tidak berkata apa-apa lagi. Namun suasana hatinya sangat baik. Karena adegan utama malam ini akan segera dimulai. Ini merupakan hadiah besar pertama yang dia berikan pada Keluarga Hasari. Tidak lama setelah itu, Maxi melepas jasnya dan duduk di meja makan. Wajahnya tampak cerah, begitu duduk langsung memuji Felix bertubi-tubi, "Felix, kamu sudah kerja keras untuk urusan pembelian kali ini. Demi meminta mereka menurunkan 2 persen keuntungan, kamu sudah bolak-balik terus, pasti capek. Untungnya hasilnya sepadan, kamu nggak mengecewakanku! Besok aku kasih kamu libur dua hari, istirahat yang baik, jangan sampai kecapekan." Felix belum sempat bicara, justru Tere dan Agatha yang matanya langsung berbinar. "Jadi ... kontrak pembelian sudah berhasil didapatkan?" "Ya. Barangnya hari ini sudah sampai, proyeknya diperkirakan mulai minggu depan" Maxi sedang sangat senang, jadi dia pun berbicara lebih banyak dari biasanya. Namun Felix yang dipuji justru diam seribu bahasa. Semua orang menatapnya dengan bingung. "Kenapa? Kurang enak badan?" "Nggak, nggak ...." Felix memaksakan senyum, menyeka keringat di dahinya dan berkata, "Kakak nggak perlu khawatir, hanya saja dua hari lalu kebanyakan minum sampai lambungku kurang enak. Nafsu makan jadi agak berkurang saja ...." "Kalau begitu istirahat yang baik. Kalau benar-benar nggak enak badan, jangan dipaksakan, periksa ke rumah sakit." "Baik." Begitulah, makan malam itu berlalu dengan suasana cukup harmonis. Di tengah makan, Tere berdalih mau mengambil sup dan menarik Felix ke samping. Tidak bisa menahan kegembiraan dan berbisik, "Kamu ini, urusannya sudah beres kenapa nggak bilang padaku? Di mana uangnya? Uang yang sudah masuk cepat pindahkan ke rekening lain, jangan sampai ketahuan!" Uang? Begitu dibahas, pandangan Felix langsung menggelap dan hampir muntah darah! Mana ada uang lagi! Malam itu dia memang berpura-pura lembur dan tidak pulang. Kenyataannya, setelah satu malam bersenang-senang, semuanya disapu bersih! Seratus dua puluh miliar adalah angka yang sangat besar. Namun karena sumbernya tidak boleh terungkap, meski tahu jelas uangnya dicuri, dia pun tidak berani melapor! Dua hari ini dia sudah berada dalam kondisi sangat gelisah, memutar otak sampai hampir gila tapi tetap tidak tahu harus berbuat apa! Sekarang ditanya seperti ini, Felix makin kesal dan langsung menjawab ketus, "Uang, uang, kamu hanya tahu uang saja! Wanita sialan, diam kamu!" Tere sama sekali tidak menyangka pria yang biasanya selalu memanjakannya itu tiba-tiba membentak. Amarahnya pun langsung naik! Namun di situasi seperti ini jelas tidak bisa membuat keributan besar, jadi Tere hanya bisa menahan diri untuk sementara. Setelah makan selesai, seluruh keluarga bersiap meninggalkan ruang makan. Tiba-tiba Maxi menerima sebuah telepon. Begitu mendengar isi pembicaraan, wajahnya langsung berubah drastis. "Apa? Ini benar?" Sebagai orang yang sudah bertahun-tahun bergulat di dunia bisnis, badai besar apa yang belum pernah dia lihat? Kalau sampai Maxi sekaget ini, jelas bukan perkara kecil. Deasy terkejut dan langsung bertanya, "Ada apa, Suamiku? Apa terjadi sesuatu di perusahaan?" Maxi tidak menjawab. Tatapan tajamnya justru langsung ke arah Felix. "Barusan penanggung jawab meneleponku. Katanya bahan yang kamu beli sangat nggak memenuhi standar! Kamu ... jelaskan padaku sekarang!" Untuk proyek tender, satu langkah saja tidak boleh salah! Apalagi baja! Apa akibat dari proyek asal-asalan jelas tidak perlu dijelaskan lagi! Semakin dipikir, Maxi semakin marah. Kalau pemeriksaan ini tidak dilakukan dan baja bermasalah itu sampai digunakan, pukulan terhadap Grup Nesmir akan sangat besar! Ke depannya, siapa lagi yang berani bekerja sama dengan mereka? Saat disapu tatapan tajam Maxi, Felix langsung gemetar dan berteriak sambil menangis, "Mana mungkin nggak memenuhi standar! Nggak mungkin, Kakak! Apa mereka salah cek? Aku jelas pesan sesuai prosedur!" Perubahan mendadak ini membuat Tere dan Agatha ikut terkejut. Ibu dan anak itu saling berpandangan, dengan satu lirikan saja mereka sudah tahu jawabannya. Inilah rencana yang mereka siapkan sejak lama! Dengan dalih pembelian, menelan uang dalam jumlah besar. Mereka tidak peduli apakah itu akan membuat Grup Nesmir jatuh terpuruk. Selama uangnya masuk ke tangan mereka, berarti berhasil! Sekarang tampaknya, semuanya berjalan sesuai rencana.

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.