Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 1

Guntur bergemuruh. Hujan di bulan Juni bisa turun kapan saja. Cassandra Nesmir berlumuran darah, tergeletak lemah di tanah berlumpur. Di sampingnya, seorang wanita menginjak punggungnya dengan sombong, tersenyum dingin penuh kemenangan. "Cassandra, oh Cassandra, bukankah kamu selalu keras kepala, nggak mau tunduk sama sekali? Baiklah! Kalau begitu akan kuhancurkan tulangmu satu per satu!" Begitu kata-kata itu berlabuh, wanita itu memberi isyarat dengan mata. Dua pria yang berdiri di belakangnya langsung bergerak. Cassandra yang malang sudah disiksa hingga tidak lagi menyerupai manusia. Kini, dia hanya bertahan dengan sisa napas terakhir. Meski begitu, dia tetap mendongak dengan keras kepala, menatap tajam wanita yang memandangnya dengan sikap merendahkan. Sekujur tubuhnya berlumur darah dan lumpur, hanya sepasang mata yang bersinar terang itu dipenuhi amarah dan kebencian tak bertepi. Di malam yang disertai kilat dan petir ini, tatapan itu tampak begitu menyeramkan. Wanita itu terkejut sesaat, lalu marah besar. "Kenapa kalian masih diam saja? Cepat lempar dia ke dalam! Aku mau lihat, bagaimana orang mati masih bisa melawanku!" Kedua pria itu menjawab dengan nada menjilat, "Baik, baik." Lalu dengan satu ayunan, mereka menendang Cassandra ke dalam rawa. Sangat tak berarti, seperti karung goni usang. Cassandra tahu, hari ini dia pasti mati. Berakhir tragis seperti ini karena kebodohannya sendiri, tidak bisa menyalahkan siapa pun! Namun dia tidak rela, tidak rela! Di saat-saat terakhir ketika kesadaran mulai memudar, seluruh momen hidupnya melintas cepat di depan mata, bagai kilatan lampu yang berputar tanpa henti. Saat itu, dia masih menjadi putri Keluarga Nesmir yang berada di puncak, dicintai dan dimanjakan semua orang. Dia hanya bisa membenci dirinya sendiri karena salah menilai orang. Demi tunangan yang dicintai selama lima tahun, dia rela menanggung kesalahan dan masuk penjara! Demi hal itu, dia bahkan rela berselisih dengan keluarganya. Akibatnya, ayahnya meninggal karena stres, ibunya membakar vila dan bunuh diri, adik laki-lakinya diracun hingga menjadi bisu dan idiot seumur hidup! Pada akhirnya, yang dia dapatkan hanyalah satu kalimat dari tunangannya. Apakah kamu pantas? Pantas? Sungguh konyol! Rasa sesak menyerbu dari segala arah. Di penghujung hidupnya, Cassandra sama sekali tidak takut, dia hanya ingin tertawa, mentertawakan hidupnya yang konyol dan bodoh ini! Namun wanita yang berdiri tidak jauh darinya menambah satu pukulan lagi dengan rasa puas dan bangga seorang pemenang. "Oh ya, Adik, aku lupa bilang. Ayahmu mati karena aku yang mencabut selang oksigennya. Kebakaran di vila keluargamu juga dilakukan olehku. Racun yang membuat adikmu jadi seperti itu ... juga diberikan olehku. Bahkan tunangan yang kamu cintai mati-matian itu, sudah lama naik ke ranjangku ...." "Semua ini karena kamu sendiri yang bodoh, jadi aku bisa dengan mudah menelan seluruh harta keluargamu, haha ...." Cassandra yang sudah tenggelam mendengar kalimat itu, tubuhnya bergetar hebat. Seketika matanya memerah dan keluar teriakan dari tenggorokannya. "Agatha Hasari, kamu akan mati tragis!" Namun saat mulutnya terbuka, yang keluar hanya bunyi gluk, gluk. Lumpur dari segala arah masuk ke hidung dan mulutnya, rasa sesak yang luar biasa menyerbu, hingga akhirnya dia benar-benar tenggelam. Segalanya menjadi hampa. Hanya kebencian tanpa batas yang tersisa, tidak padam, tidak sirna. ... Duar! Petir menggelegar lagi. Cassandra menjerit dan tiba-tiba membuka mata. Sinar matahari terik menembus sela-sela dedaunan, jatuh ke wajahnya dan menyilaukan matanya. Yang terlihat adalah dia terbaring di sebuah tanah lapang di pinggiran kota. Tubuhnya basah kuyup, tampak sangat berantakan. Pemandangan ini .... Cassandra tertegun. Bukankah ini hari ulang tahunnya yang ke-18? Hari ketika dia mengajak teman-temannya piknik ke luar kota serta menyiapkan pengakuan cinta yang matang untuk tunangannya, Faldano Tanadi? Cassandra mengingat dengan jelas bagaimana pengakuannya yang tulus, tapi kikuk itu ditertawakan Faldano. Di depan semua orang, Faldano langsung berkata, "Cassandra, berhenti bermimpi saja. Bahkan kalau di dunia ini hanya tersisa kamu satu-satunya wanita, aku, Faldano, tetap nggak akan melirikmu!" Saat itu, kata-kata kejam itu membuat hatinya hancur. Lalu dia berlari pergi sendirian, tersesat dan kehujanan. Pada akhirnya jatuh dari sebuah lereng kecil. Kakinya keseleo, lalu pingsan di sana. Saat mengingat dirinya yang dulu, Cassandra sampai ingin menampar dirinya sendiri. Kenapa bisa sebodoh itu? Namun, saat mengangkat tangan, dia baru menyadari tangannya putih mulus, tanpa bekas luka sayatan Agatha. Tubuhnya juga tidak merasakan sakit tulang patah. Dia .... Bukankah dia sudah mati? Mati di rawa pada malam hujan itu. Atau jangan-jangan .... Jantung Cassandra berdebar kencang. Dia mencubit dirinya sendiri dengan kuat! Sakit. Jelas dan nyata! Ternyata dia hidup kembali, bahkan terlahir kembali tepat di hari ulang tahunnya yang ke-18! "Hahaha ... Tuhan memang punya mata ...." Cassandra tiba-tiba tertawa, lalu air matanya mengalir. Masa lalu bukan mimpi. Semua yang terjadi terukir jelas di dalam ingatannya! Di kehidupan sebelumnya, dia begitu bodoh dengan membiarkan keluarga paman keduanya yang licik datang, hingga memberi Agatha kesempatan! Dia sangat mengerti betapa liciknya hati manusia sekarang! Untung, Tuhan masih berbelas kasihan padanya. Saat ini semua bencana Keluarga Nesmir belum terjadi. Dia masih punya kesempatan untuk memperbaiki segalanya! Dendam harus dibalas, budi harus dibayar. Semua yang pernah menyakitinya, akan dia kembalikan berlipat ganda di kehidupan ini! Cassandra menyeka air matanya dengan kuat dan bersiap bangkit, ketika ponsel di sakunya bergetar. Itu telepon dari Faldano. Dia dan Faldano sudah dijodohkan sejak kecil. Selama bertahun-tahun dia yang mengejar Faldano. Dari awal sampai akhir, itu hanyalah cinta sepihak dirinya. Namun kemudian Faldano tiba-tiba berubah sikap dan berjanji akan menikahinya. Dengan syarat, dia harus menggantikan wanita yang dicintainya masuk penjara. Cassandra setuju. Demi itu, dia rela memutus hubungan dengan orang tuanya, membuat ayahnya marah hingga dirawat di rumah sakit. Setelah lima tahun di penjara, yang didapat hanyalah kalimat, "Apakah kamu pantas?" Ketika mengingat kebodohannya di kehidupan lalu, Cassandra tersenyum. Dia menggeser layar dan menjawab panggilan. Di seberang sana, terdengar suara Faldano yang dingin dan penuh kejengkelan. "Cassandra, kamu bisa nggak berhenti bersikap egois? Kamu sendiri yang kabur, memangnya kami harus mengundangmu kembali? Dengar baik-baik, jangan mimpi lagi. Aku, Faldano, sekalipun harus mati, tetap nggak akan menyukaimu!" Kata-kata yang sama persis seperti di kehidupan sebelumnya. Melalui telepon saja, bisa dibayangkan ekspresi benci dan jijiknya. Cassandra menyentuh dagunya. Apa jawaban Cassandra di kehidupan sebelumnya? Dengan suara menangis dan penuh permohonan, dia berkata, "Aku bisa berubah seperti yang kamu suka. Tapi bisakah kamu coba menerimaku sekali saja? Aku benar-benar nggak bisa hidup tanpamu ...." Hmph. Cassandra tersenyum pelan, lalu menjawab dengan tegas. "Pergi!"
Bab Sebelumnya
1/86Bab selanjutnya

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.