Bab 2
Setelah itu dia langsung menutup telepon tanpa ragu.
Di seberang sana, Faldano tercengang.
Biasanya, setiap menerima telepon darinya, seburuk apa pun kata-katanya, Cassandra selalu bersikap hati-hati dan merendahkan diri demi menyenangkannya.
Namun kali ini, dia justru memakinya, bahkan langsung menutup teleponnya begitu saja?
Setelah beberapa saat, Faldano baru sadar dan mendengus dingin. "Huh, permainan tarik ulur apa ini!"
Di sisi lain, hati Cassandra justru terasa lega.
Ini baru permulaan.
Ke depannya, dia harus membatalkan pertunangan konyol di antara mereka!
Setelah memutus panggilan dari pria berengsek itu, Cassandra menelepon ke rumahnya sendiri. Begitu mendengar suara ibunya yang cemas namun begitu akrab, dia hampir menangis.
Di kehidupan sebelumnya, saat vila terbakar, dia masih berada di penjara. Ketika akhirnya keluar, yang menantinya hanyalah sebuah nisan dingin.
Semua orang bilang ibunya bunuh diri dengan membakar diri. Dia pun dengan bodohnya memercayai itu. Tapi ternyata ... itu semua ulah keluarga paman keduanya!
Cassandra menahan air mata dan berkata, "Ibu, aku nggak apa-apa. Aku hanya kangen Ibu. Aku ingin pulang."
Ketika seorang ibu mendengar kalimat itu, dia mengira putri kesayangannya diperlakukan tidak baik di luar sana. Jadi segera berkata dengan panik, "Baik, baik, kita pulang. Kalau ada apa-apa, ceritakan sama Ibu saat pulang nanti. Kamu di mana? Ibu akan segera menjemputmu."
Cassandra menyebutkan alamatnya.
Ponselnya yang sebelumnya sempat terendam air pun benar-benar mati saat menutup panggilan ini.
Agar lebih mudah ditemukan keluarganya, Cassandra berdiri dan berjalan tertatih ke depan.
Namun baru beberapa langkah, terdengar suara erangan tertahan dari hutan kecil di dekatnya.
Terdengar samar, juga tercium bau darah yang pekat.
Di kehidupan sebelumnya, Cassandra sudah terlalu banyak menderita, terutama selama bertahun-tahun di penjara di mana dia sering dirundung. Dari seorang putri kaya yang lemah, dia berubah menjadi monster ganas yang bisa menjatuhkan orang hanya dengan satu gerakan.
Dia tidak pernah tidur tenang hingga kekuatan fisik, pendengaran, dan refleksnya terasah jauh melampaui orang biasa.
Saat mendengar suara itu sekarang, Cassandra agak ragu.
Dia bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain.
Namun di tengah keraguan itu, ingatan dari masa lalu muncul.
Dia pernah melihat sebuah berita, di kehidupan sebelumnya, tepat pada hari ini, putra keenam Keluarga Zemandes, Victor Zemandes, pernah menjadi target pembunuhan. Dia berhasil melarikan diri, tapi pingsan karena kehilangan banyak darah.
Meski akhirnya selamat, tapi semua kabar lanjutan langsung ditutup rapat oleh Keluarga Zemandes.
Jika dia tidak salah ingat, lokasinya memang di sekitar sini, 'kan?
Kalau begitu, mungkinkah orang di dalam hutan kecil itu benar-benar Victor?
Keluarga Zemandes terkenal di seluruh Kota Lumora, tidak ada seorang pun yang tidak tahu! Keluarga bangsawan berusia ratusan tahun, fondasinya kuat, berpengaruh, ditakuti semua orang!
Sedangkan Victor adalah pilar utama Keluarga Zemandes. Dia adalah putra bungsu yang lahir saat tuan besar Keluarga Zemandes sudah tua dan sangat berbakat. Usianya masih muda, tapi punya kemampuan yang luar biasa. Dia menopang seluruh Keluarga Zemandes seorang diri, sosok besar yang disegani di dunia bisnis!
Cassandra berpikir sejenak, lalu tertatih masuk ke dalam hutan kecil itu tanpa ragu lagi.
Dia punya rencananya sendiri.
Kalau bisa meninggalkan kesan baik di hadapan putra keenam Keluarga Zemandes ini, kelak jika dia membutuhkan bantuan Keluarga Zemandes, dia punya alasan untuk membuka mulut.
Setelah mengikuti arah suara cukup lama, Cassandra tidak menemukan siapa pun. Namun di bawah sebuah pohon besar, dia melihat noda darah merah segar.
Sangat banyak.
Jelas lukanya tidak ringan.
Cassandra berjongkok, menyentuh darah itu. Darahnya belum mengering, orangnya pasti belum pergi jauh.
Saat hendak berdiri untuk melanjutkan pencarian, tiba-tiba ada angin pukulan dari belakan!
Alarm bahaya dalam hati Cassandra langsung berbunyi. Dia sempat berniat menghindar, tapi dalam sekejap justru mengubah keputusan. Dia segera mengangkat tangan tanda menyerah sambil berteriak, "Jangan! Aku bukan orang jahat!"
Pukulan itu tidak jadi mendarat.
Cassandra menghela napas lega dan perlahan berbalik.
Begitu mendongak, yang terlihat adalah wajah pria yang sangat tampan.
Wajahnya sempurna seperti pahatan, benar-benar memanjakan mata. Meski tubuhnya terluka parah, aura bangsawan yang memancar darinya tetap kuat, penuh tekanan dan sangat agresif, seperti seekor serigala tangguh.
Apakah ini putra keenam Keluarga Zemandes?
Ternyata masih semuda ini.
Victor menatap Cassandra dengan tajam. Matanya yang gelap dan dalam, penuh dengan rasa ingin tahu dan penilaian.
"Siapa kamu?"
Tekanannya seberat gunung. Aura pria ini benar-benar mendominasi.
Cassandra berkedip. Sepasang matanya yang berkilau seperti bintang tampak polos tanpa cela. "Aku hanya lewat dan datang melihat karena mendengar suara. Kamu nggak apa-apa? Keluargaku sebentar lagi datang menjemputku, aku sekalian antar kamu ke rumah sakit?"
Cassandra berusaha menunjukkan niat baik, berharap bos besar ini mengingat wajahnya, siapa tahu nanti bisa membantunya.
Namun ekspresi Victor tetap dingin, bibir tipisnya terbuka dan melontarkan satu kata, "Pergi."
"..."
Dia bahkan kasar pada orang yang ingin menolongnya!
Cassandra terdiam sesaat, lalu berbalik dan langsung pergi.
Namun baru dua langkah, terdengar suara "bruk" dari belakang. Cassandra menoleh dan melihat Victor sudah pingsan, tergeletak di tanah tak sadarkan diri.
Cassandra memutar bola mata. Dia mendekat sambil mengomel dan memeriksa lukanya.
Di bagian pinggangnya ada luka cukup besar dan terus mengucurkan darah.
Cassandra melihat sekeliling, tidak ada orang lain di hutan kecil ini. Dia pun melepas tank top yang dipakainya sebagai dalaman dan merobeknya menjadi beberapa bagian. Akhirnya berhasil menghentikan pendarahan Victor.
Untuk melampiaskan kekesalannya, dia bahkan sengaja membuat simpul pita yang cantik di perban itu.
"Ah, bagus, bagus."
Cassandra pun bertepuk tangan dengan puas, lalu berdiri dan meninggalkan hutan kecil itu.
Tak lama setelah dia pergi, iring-iringan mobil Keluarga Zemandes melaju kencang ke sini. Puluhan pengawal berbaju hitam turun dan menyisir hutan untuk mencari Victor.
Beberapa menit kemudian, Victor dibawa ke dalam mobil.
Mobil melaju kencang. Di tengah jalan, Victor sempat terbangun sekali.
Begitu menunduk, yang pertama kali dilihatnya adalah pita kupu-kupu mencolok di pinggangnya.
Sudut mata Victor berkedut keras.
Siapa yang melakukan ini?
Di benaknya tiba-tiba muncul wajah gadis kecil cantik di hutan kecil itu.
Matanya licik dan cerdas.
Lebih parah lagi, pria yang membantunya menangani luka itu, setelah membuka simpul pita, dia berkata dengan heran, "Eh? Kenapa bisa tank top seorang gadis, ya?"
Selesai bicara, Kenneth Sumaris menatap Victor dengan sorot mata penuh godaan dan makna ambigu.
Siapa yang tidak tahu kalau putra keenam Keluarga Zemandes tidak dekat dengan wanita?
Begitu banyak wanita ingin mendekat, tapi paling-paling hanya akan diusir dengan satu kata, pergi.
Tidak disangka, kali ini dia terluka dan malah didekati seorang gadis?
Saat menyadari tatapan Kenneth yang semakin menggoda, Victor menutup mata. "Kenapa masih nggak tangani lukaku? Kamu ingin aku mati?"
"Ada aku di sini, hal itu nggak mungkin terjadi."
Itu bukan karena Kenneth terlalu percaya diri, tapi dia memang punya kemampuan itu.
Kenneth adalah sahabat kepercayaan Victor, sekaligus tuan muda paling muda Keluarga Sumaris yang turun-temurun bergerak di bidang kedokteran. Umurnya masih muda, tapi kemampuan medisnya luar biasa. Beberapa tahun lalu, berkat sepasang tangan ajaibnya, dia berhasil menyelamatkan Victor yang nyawanya sempat berada di ujung tanduk. Luka kecil kali ini tentu bukan masalah baginya.
Victor memejamkan mata, namun wajah cantik dan menawan itu tiba-tiba muncul di benaknya.
Dia mendengus pelan. "Gadis licik yang berniat jahat."