Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 3

Cassandra yang sudah tiba di rumah tiba-tiba bersin. Deasy Canesia merasa kesal sekaligus iba. "Cassandra, apakah bocah Keluarga Tanadi itu menindasmu lagi? Lihat, bajumu basah kuyup. Kenapa dia nggak bisa menjagamu sebentar, paling nggak mengantarmu pulang." Dulu, saat menghadapi omelan ibunya, Cassandra biasanya akan selalu mencari cara membela Faldano, mencari berbagai alasan untuk membicarakan hal baik tentangnya, supaya keluarganya bisa menerima dan menyukai Faldano. Bahkan terkadang, kalau Deasy terlalu banyak bicara, Cassandra akan membantah dengan kesal. Oleh karena itu, Cassandra sering bertengkar dengan keluarganya. Namun Cassandra yang sekarang tidak akan begitu lagi. Belum lagi fakta kalau Faldano memang bukan orang baik, yang terpenting adalah rasa bersalah di hatinya sendiri. Baginya, meskipun harus mendengar omelan ibunya setiap hari, dia tetap merasa bahagia. Itu jauh lebih baik dibandingkan menghadapi nisan dingin di kehidupan sebelumnya. Ketika memikirkan hal itu, hidung Cassandra terasa perih. Dia meraih lengan Deasy dan memeluknya, merasakan kelembutan serta kehangatan ibunya. Dia bermanja-manja sejenak, lalu tiba-tiba berkata setelah beberapa saat, "Ibu, aku mau ... membatalkan pertunangan." "Membatalkan pertunangan?" Deasy tertegun. Ucapan itu pernah dia lontarkan pada putrinya dulu, tapi ditolak keras. Siapa suruh putri bodohnya ini begitu mencintai bocah Keluarga Tanadi itu. Dia begitu terobsesi sampai tidak mau mendengar siapa pun. Tidak disangka sekarang justru Cassandra sendiri yang mengajukan pembatalan pertunangan? "Cassandra ...." Deasy mengira putrinya benar-benar sudah terluka parah dan merasa semakin kasihan. "Kamu sudah memikirkannya baik-baik? Kelak, nggak akan menyesal, 'kan?" "Nggak." Cassandra tersenyum tipis. Di wajahnya yang cantik dan memesona terpancar cahaya yang berbeda dari biasanya. "Ada banyak pria baik di dunia, memangnya siapa Faldano?" Ucapan itu membawa kesombongan alami Cassandra. Deasy merasa sangat lega. Dia merasa putrinya sudah tidak sama seperti sebelumnya, seolah ... tiba-tiba tumbuh dewasa dalam sekejap. "Cepat, minum teh jahe lalu mandi air hangat. Jangan sampai besok sakitnya jadi parah." Deasy terus mendesaknya. "Nanti habis mandi masih harus dioles obat. Walaupun kakimu hanya keseleo dan nggak parah, tetap nggak boleh disepelekan." "Ya, tahu!" Cassandra menjawab dengan patuh, lalu dibantu pelayan naik ke lantai atas. Saat melewati kamar adik laki-lakinya, Bryan Nesmir, dia langsung membuka pintu. Adiknya yang berusia delapan tahun yang sedang meringkuk di ranjang sambil bermain gim buru-buru menyembunyikan konsolnya, lalu berkata dengan galak, "Kenapa masuk nggak ketuk pintu! Kakak nggak sopan!" Cassandra tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap adiknya. Tatapannya lembut, bahkan mengandung rasa sayang dan kasih. Di kehidupan sebelumnya, adiknya diracun hingga menjadi bisu dan bodoh seumur hidup! Sekarang, Bryan lincah dan sehat, bahkan masih bisa galak seperti orang dewasa. Mulutnya pedas tapi diam-diam selalu peduli dengannya. Bagaimana mungkin dia perhitungan dengan adik kandungnya sendiri? Bryan menjadi agak tidak nyaman ditatap seperti itu. Dia bergumam, "Kakak, kenapa kamu hari ini kelihatan bego? Jangan-jangan ditindas lagi?" Sejak pulang ke rumah hari ini, Cassandra terus memeluk dan menciumnya begitu juga pada ibu mereka, kecuali ayah yang belum pulang dari kantor. Benar-benar aneh. "Nggak apa-apa. Kakak hanya mau bilang, aku sayang padamu." Cassandra mengedipkan mata. Dia melihat adiknya melempar bantal ke arahnya. Dia tertawa lepas dan keluar dari kamar dengan suasana hati yang bagus. Ketika pintu kamar tertutup rapat, ekspresi canggung di wajah Bryan pun menghilang. Dia mengambil laptop yang dilempar ke samping, jari-jarinya mengetik cepat sambil menggerutu, "Sialan Faldano, berani-beraninya menindas kakakku. Lihat saja nanti!" Beberapa menit kemudian, komputer Faldano diretas. Diretas habis-habisan. ... Setelah mandi air hangat dengan nyaman, Cassandra berbaring di kamar. Seorang pelayan sedang mengoleskan obat padanya. Cassandra tersenyum dan mengambil salep itu. "Aku sendiri saja." Pelayan pun pergi. Cassandra bangkit dan duduk di depan meja rias. Di cermin terpantul wajahnya yang berusia delapan belas tahun. Kulit putih, wajah cantik, bibir merah, gigi putih. Fitur wajahnya sempurna, penuh kolagen sampai seolah bisa diperas airnya. Dia mewarisi semua kelebihan orang tuanya, sejak kecil selalu menjadi yang paling menonjol di tengah keramaian. Sayang sekali, di kehidupan sebelumnya dia merendahkan diri sampai mati demi pria yang tidak layak, sehingga menyia-nyiakan wajah secantik ini. Cassandra mengaitkan sudut bibirnya dan tersenyum pelan. Pada saat ini juga, suara ribut terdengar dari lantai bawah. Akhirnya datang juga. Cassandra mendengus dingin dan melangkah turun. Di lantai satu vila, Agatha sedang manja di dekat Deasy dan memanggilnya dengan akrab. "Bibi, lihat syal yang aku belikan ini. Cocok sekali dengan auramu. Bibi suka nggak?" Kalau orang lain melihatnya, mereka pasti mengira suasananya hangat dan rukun. Begitu harmonis. Cassandra berdiri di ujung tangga lantai dua, bersandar pada pegangan dengan tangan terlipat dan sorot matanya dingin. Keluarga Agatha pindah dari desa ke Kota Lumora setahun lalu. Terus terang saja, ayah Cassandra terlalu lembut hati. Mengingat mereka masih saudara, merasa sudah sepantasnya saling membantu. Jadi dengan berbagai bujukan Keluarga Hasari, dia pun menerima keluarga tiga orang itu ke rumah. Disuguhi makanan enak, diberi uang saku, bahkan paman keduanya langsung ditempatkan sebagai wakil manajer di Grup Nesmir. Mungkin karena hidup yang terlalu nyaman membuat mereka serakah. Keluarga tidak tahu malu itu malah merasa dirinya sebagai tuan rumah dan menganggap semua milik Keluarga Nesmir sebagai milik mereka sendiri, bahkan akhirnya berniat membunuh demi merebut segalanya. Yang paling konyol adalah paman keduanya, Felix Hasari, sebenarnya hanya paman sepupu. Semua itu karena manusia yang tidak pernah puas. Namun harus diakui, cara keluarga itu sangat licik. Mereka selalu berhasil membujuk ayah dan ibu Cassandra, sama seperti Agatha yang sedang menyenangkan ibunya saat ini. Cassandra menuruni tangga. Begitu suara langkah kaki terdengar, Deasy dan Agatha serentak menoleh. Mereka melihat Cassandra perlahan turun dengan mengenakan gaun rancangan khusus. Kulitnya sebening giok, tubuhnya ramping dan anggun. Wajahnya yang cantik itu tetap memesona dan anggun meski tanpa riasan. Aura yang terpancar dari tubuhnya pun berbeda dari sikap manja dan congkak sebelumnya. Kini terlihat semakin santai, namun tetap berkelas. Saat melihat mereka menatapnya, Cassandra mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum. Senyuman itu seperti bunga kecubung, beracun dan berduri. Namun juga seperti bunga pir yang mekar setelah hujan, anggun dan tenang. Dua daya tarik mematikan berpadu menjadi satu, menciptakan pesona yang sangat aneh dan menakjubkan. Jika Cassandra sebelumnya hanya dianggap pajangan cantik, maka Cassandra yang sekarang bukan hanya cantik menawan, tapi juga memancarkan aura luar biasa dan memiliki daya tarik yang membuat orang terpaku. Agatha sampai tertegun. Entah kenapa, dia merasa Cassandra yang sekarang akan menjadi ancaman besar baginya. Terlebih dari mata sipit Cassandra yang jernih, dia merasakan semburat dingin yang menusuk tulang ....

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.