Bab 12
Beberapa hari berlalu. Wulan tetap tidak ditemukan, tetapi ayahnya, Wira, justru datang sendiri ke rumah.
Fajar menerimanya di ruang kerja vila yang untuk sementara dijadikan kantor. Di dalam hatinya, masih tersisa secercah harapan. Mungkin Wulan yang menyuruh ayahnya datang untuk bernegosiasi dan mengajukan syarat.
Namun, yang dibawa Wira adalah sebuah akta cerai yang telah dibubuhi stempel resmi kantor catatan sipil dan memiliki kekuatan hukum penuh.
"Fajar, ini keputusan yang diambil Wulan," kata Wira sambil meletakkan akta cerai itu di atas meja. Nada suaranya terdengar seperti orang yang akhirnya bisa bernapas lega. "Dia bilang ... urusannya dengan Keluarga Yandika sudah selesai."
Tatapan Fajar terpaku pada akta cerai yang menyilaukan itu. Seketika, darahnya seperti menghantam kepala, tubuhnya terasa tersambar petir.
Dia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Cerai?
Wulan benar-benar ... menceraikannya?
Perempuan yang dulu mengejarnya tanpa ragu, yang berulang kali menga

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda