Bab 23
"Fajar!" Wulan terimpit di bawah tubuhnya, menatap ke atas dengan mata terbelalak. Yang dia lihat adalah wajah Fajar yang begitu dekat, tertekan oleh rasa sakit hebat, serta lidah api yang masih menjilat punggungnya.
Bau kulit yang terbakar menusuk hidungnya.
Tim penyelamat segera tiba dan menyemprotkan alat pemadam hingga api di punggung Fajar akhirnya padam.
Punggungnya sudah menghitam dan melepuh, kondisinya mengerikan untuk dilihat.
Rasa sakit nyaris membuatnya kehilangan kesadaran, tetapi Fajar tetap memaksa dirinya bertahan. Hal pertama yang dia lakukan adalah meraih lengan Wulan, menatapnya dengan panik dari kepala hingga kaki. "Kamu ... kamu nggak apa-apa? Ada yang terluka?"
Suaranya lemah, namun dipenuhi kekhawatiran yang tulus dan tak terbantahkan.
Wulan menatap punggungnya yang terbakar parah, keringat dingin yang membasahi dahinya karena menahan sakit, serta rasa takut dan kepedulian nyata di matanya. Bibirnya bergerak, tetapi untuk sesaat dia tidak bisa berkata-kata.
Saat

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda