Bab 24
"Fajar!"
Teriakan tajam itu menggema di seluruh arena berkuda yang kosong.
Hampir bersamaan dengan jeritan Wulan, Fajar mengerahkan sisa tenaganya dan menarik kendali sekuat mungkin.
Kuda itu meringkik kesakitan, kaki depannya terangkat tinggi dan mengentak udara dengan liar, lalu berhenti mendadak, berjarak kurang dari setengah meter dari pagar pembatas.
Daya hentinya membuat Fajar terlempar dari punggung kuda. Tubuhnya menghantam rumput dan terguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti.
Dia tergeletak sambil terbatuk hebat. Luka di punggungnya jelas kembali terbuka, darah merembes menembus jaketnya.
Namun dia tidak peduli. Dengan susah payah, dia mengangkat kepala. Wajahnya penuh debu dan serpihan rumput, air mata mengalir tanpa bisa dibendung. Seperti anak kecil yang menunggu vonis terakhir, dia menatap ke arah Wulan dengan putus asa, namun masih menyimpan secuil harapan.
Wulan berdiri terpaku, napasnya terengah-engah tak terkendali, wajahnya pucat pasi.
Kengerian barusan masih

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda