Bab 4 Begini Caramu Menjaga Istrimu?
Kebetulan, saat itu Anggita bergegas keluar dari kamar mandi. "James, ini salahku. Aku nggak seharusnya ingin minum sup jamur kuping biji teratai. Ini bukan salah Adele ...."
Dia baru saja selesai muntah, wajahnya masih pucat. Dipadukan dengan suara lembut dan penampilannya yang terlihat begitu rapuh, benar-benar membuat orang merasa iba.
Tentu saja membuat Adele tampak seperti orang yang tidak punya hati!
Sampai saat ini barulah Adele benar-benar sadar apa arti aktor sejati.
Tidak heran James begitu tergila-gila pada Anggita.
Tidak heran Windy memperlakukannya seperti ratu.
Bahkan Adele sendiri dulu juga sempat tertipu oleh akting wanita ini!
Windy langsung merasa sangat kasihan. "Anggita, kamu terlalu pengertian. makanya dia semakin seenaknya!"
Dulu setiap kali mendengar ucapan seperti itu, Adele pasti akan sedih berhari-hari. Tapi sekarang hatinya justru merasa sangat tenang.
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum sopan. "Kakak Ipar, kalau kamu benar-benar ingin minum sup jamur kuping biji teratai, kamu bisa minta Bi Sari buatkan. Keterampilan masaknya nggak kalah dariku."
Anggita hanya bisa menunjukkan ekspresi tidak berdaya. "Aku juga nggak tahu kenapa, kalau pembantu yang buat, rasanya nggak bisa ditelan. Mungkin bayinya suka sama bibinya, jadi hanya suka sup buatan bibinya."
Selesai bicara, dia bahkan terlihat sangat pengertian dengan kondisi Adele. "Nggak apa-apa, aku juga bukan harus minum sup itu. Nggak makan sekali seharusnya nggak akan berpengaruh pada bayi."
Adele hampir saja tepuk tangan.
Satu kalimat ini membuat suasana semakin panas.
Wajah Windy langsung menghitam. Dia menunjuk Adele sambil memaki. "Kamu memang sengaja membuat kakak iparmu menderita! Aku kasih tahu ya, dia sekarang mengandung satu-satunya cucu Keluarga Hauten. Dia sangat berharga! Apa pun yang aku perintahkan, kamu harus menurut!"
Begitu ucapan itu selesai, seolah ingin menambah dramanya, Anggita kembali memegangi perut sambil menahan mual.
James sama sekali tidak peduli Adele masih ada di situ. Dia langsung panik dan maju memapahnya. "Adele, hanya semangkuk sup jamur kuping biji teratai saja, nggak akan makan waktu lama. Kamu pengertian sedikit."
Mendengar itu, Adele menatap pria yang dulu sangat dia cintai itu dengan dalam. Tiba-tiba dia merasa tiga tahun ini benar-benar tidak ada artinya.
Memang benar selama bertahun-tahun ini Keluarga Suria meminjam cukup banyak uang dari Keluarga Hauten, tapi kalau dihitung pun totalnya hanya beberapa puluh miliar.
Kalau dibandingkan 200 miliar yang dulu Keluarga Suria berikan pada mereka, itu tidak ada apa-apanya!
Belum lagi sejak menikah, dia selalu ikut mengurus perusahaan Keluarga Hauten. Proyek-proyek yang dia tangani dan keuntungan yang dihasilkan sudah jauh melebihi uang yang Keluarga Hauten berikan pada Keluarga Suria.
Selain itu, dalam kehidupan sehari-hari dia merawat James dan semua anggota Keluarga Hauten dengan sepenuh hati.
Dari awal sampai sekarang, Keluarga Suria tidak berutang apa pun pada Keluarga Hauten. Dirinya juga tidak berutang apa pun pada Keluarga Hauten!
Dia hanya terlalu pengertian.
Makanya sekali saja dia membantah, langsung dianggap tidak tahu diri!
Dia menegakkan kepala, sikapnya keras dan dingin. "Untuk satu mangkuk itu, aku harus menghabiskan waktu dua sampai tiga jam. Aku sedang nggak enak badan, jadi nggak bisa buatkan."
"Kamu!"
Windy begitu marah sampai memegangi dadanya.
James mengingat sejak tadi malam hingga hari ini, sikap Adele jelas berubah. Hatinya tiba-tiba merasa tidak tenang.
Jangan-jangan dia sudah tahu sesuatu?
Pada saat ini, suara bentakan keras terdengar dari luar. "Aku hanya pergi beberapa hari, kalian sudah bersekongkol menindas cucu menantuku! James! Begini caramu menjaga istrimu?"
Tak lama kemudian, Nyonya Siska muncul sambil bertopang pada tongkat.
Begitu melihatnya, Adele buru-buru menyambut. "Nenek, kenapa Anda pulang?"
Nyonya Siska menggenggam tangan Adele dengan wajah penuh senyum. "Aku kangen dengan cucu menantuku, makanya pulang."
Setelah itu, dia melihat kondisi Adele yang tampak kurang baik, wajahnya langsung berubah. "Kenapa kamu jadi kurus? Kamu nggak makan dengan baik ya?"
Windy langsung berkata sinis, "James selalu memberinya banyak uang, cukup untuk menutupi kekurangan Grup Suria, bahkan masih sisa. Dia nggak perlu memikirkan apa-apa tapi uang tetap mengalir. Nggak jadi gemuk saja sudah syukur, mana mungkin kurus?"
Nyonya Siska langsung mengernyit dan membentaknya. "Kamu nggak perlu berkata sinis seperti itu!"