Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 5 Kalau Terjadi Sesuatu Padanya, Aku Tidak akan Memaafkanmu

"Ibu ...." "Jangan bahas dulu soal Keluarga Suria yang membantu kita membesarkan menantu selama dua puluh tahun lebih. Waktu itu kalau bukan karena Keluarga Suria, bagaimana mungkin Grup Hauten bisa berjalan lancar sampai sekarang?" Nyonya Siska membela Adele, mengingatkan semua orang untuk tidak lupa budi. "Sekarang mereka sudah menyerahkan putrinya untuk menikah ke keluarga Hauten. Jelas-jelas Keluarga Hauten yang diuntungkan. James sebagai suami, sudah seharusnya membantu keluarga mertuanya. Bahkan kalau Adele menginginkannya, harta Keluarga Hauten itu juga miliknya." Di rumah ini tetap Nyonya Siska yang paling berkuasa. Meski Windy tidak puas, dia tidak berani melawan secara terang-terangan. "Ibu, Anggita juga cucu menantu Anda. Sekarang dia juga sedang mengandung cicit Anda. Kalau soal warisan, seharusnya anak dalam kandungannya yang paling berhak mendapatkan bagian ...." Nyonya Siska seolah tidak mendengar apa pun. Dia berbalik menatap Adele. "Kamu dan James harus lebih berusaha lagi, usahakan bulan ini hamil, tahun ini kasih Nenek seorang cicit laki-laki yang gemuk. Nanti setelah dia besar, biar dia yang mengelola Keluarga Hauten. Nenek percaya anakmu dan James pasti paling pintar." Hati Adele terasa semakin pahit. James hanya menyentuhnya sebulan sekali, bahkan setelah itu masih memberinya pil kontrasepsi. Dia mau hamil pun tidak bisa. Sekarang dia malah sedang bersiap untuk bercerai, mana mungkin dia masih ingin melahirkan anak James? Anggita tahu betul kalau Nyonya Siska tidak suka padanya dan selalu memihak Adele. Biasanya kalau di depan Nyonya Siska, dia tidak berani banyak bicara. Tapi sekarang setelah mendengar warisan keluarga akan diberikan pada anak Adele, dia langsung panik. Saat yang lain tidak memperhatikan, dia mencubit James dengan kuat untuk meluapkan ketidakpuasannya. James menenangkan dengan suara rendah. "Jangan khawatir, semuanya milik kamu dan anakmu. Nggak ada yang bisa rebut." Janji itu baru membuat hati Anggita sedikit tenang. Bagaimanapun juga, Nyonya Siska sudah tua, tidak akan hidup terlalu lama lagi. Nanti setelah dia tidak ada, tetap James dan Windy yang memegang kendali di rumah ini. Sekalipun sekarang warisan mau diserahkan pada Adele, setelah Nyonya Siska meninggal, apakah Adele benar-benar bisa mendapatkan sesuatu, itu masih belum pasti. Jadi Anggita tidak khawatir lagi. Lagi pula ada mertua dan James yang membelanya. Meski Adele disayang Nyonya Siska, apa gunanya? Pada akhirnya dia tetap akan diinjak-injak olehnya! Windy pun keluar membela Anggita. "Ibu, Anda mana boleh pilih kasih seperti itu? Yang lebih dulu hamil anak laki-laki itu Anggita. Dia juga kakak ipar Adele. Kalau soal warisan, nggak mungkin jatuh ke Adele dulu." Nyonya Siska mendengus. "Bagaimana kamu begitu yakin kalau dia mengandung anak laki-laki?" Windy sangat percaya diri. "Pasti anak laki-laki." Nyonya Siska menatap Anggita dengan tatapan penuh wibawa. Wanita itu penuh perhitungan, latar belakangnya juga tidak begitu bersih. Sekarang malah semakin tidak tahu diri karena mengandalkan kehamilannya. Dia sama sekali tidak pantas menjadi nyonya besar Keluarga Hauten. Tapi Adele berbeda. Dia sendiri yang melihat anak ini tumbuh besar sejak kecil, dia tahu betul sifatnya. "Sudah, aku punya pertimbangan sendiri soal ini." Nyonya Siska tidak ingin membahasnya lagi. Pandangannya melirik James yang masih memegangi Anggita. Lalu mengetukkan tongkatnya ke lantai. "James! Kamu sudah nggak bisa membedakan siapa istrimu? Cepat ke sini pegang Adele!" Jelas sekali Nyonya Siska sengaja menciptakan kesempatan untuk Adele. Mana mungkin Anggita tidak tahu? Saat merasa genggaman tangan James mulai mengendur, dia tiba-tiba memegangi perutnya dan menunjukkan ekspresi kesakitan. "Ah ...." "Kenapa?" James langsung memegang bahunya, ketakutan sulit disembunyikan di wajahnya. Anggita berkata dengan suara lemah, "James, perutku sangat sakit ...." Windy juga ikut cemas. "Pasti karena pagi ini nggak makan dan suasana hati jelek, sampai berpengaruh ke bayi. James, cepat bawa kakak iparmu ke rumah sakit buat periksa!" Selesai bicara, tatapan jahatnya langsung mengarah ke Adele. Seolah Adele penyebab semua ini! James buru-buru membungkuk, lalu mengangkat Anggita dalam gendongan. "Jangan takut, kita langsung ke rumah sakit sekarang. Nggak akan apa-apa!" Selesai bicara, dia langsung menabrak Adele keras-keras dan berlari ke pintu. Adele kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai. Tulang ekornya tepat membentur lantai hingga rasa sakit menusuk membuatnya menghirup napas tajam. Windy sama sekali tidak peduli dengan Adele. Saat pergi pun masih sempat mengancam. "Jangan sok baik! Kalau sampai terjadi sesuatu pada Anggita, aku nggak akan memaafkanmu!"

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.