Bab 10
Dengan tangan gemetar, Vanya menekan nomor ayahnya.
[Bukankah kita sudah sepakat nggak akan saling menghubungi?] Suara Dirga terdengar dingin. [Surat pemutusan hubungan ayah-anak sudah kukirim. Akhir bulan sudah dekat, dua hari ini kamu harus berangkat ke Kota Altara.]
"Aku hanya mau tanya satu hal." Suara Vanya serak. "Dulu, aku diserahkan pada Kresna karena keinginanmu, atau karena dia yang memintaku?"
[Untuk apa bertanya begitu?]
"Jawab aku!"
Dirga terdiam sejenak. [Dia yang memintaku dan menukarnya dengan proyek di selatan kota. Lagian aku juga muak melihatmu. Sekali jalan, dua urusan selesai.]
Telepon itu terlepas dari genggaman Vanya, jatuh ke lantai dengan suara retak yang tajam.
Vanya tiba-tiba tertawa.
Tawanya menggema di vila yang kosong hingga air mata mengalir tanpa henti.
"Kresna ... kamu benar-benar kejam."
Entah berapa lama berlalu, sampai akhirnya Vanya mengusap wajahnya, menghapus sisa air mata, lalu melangkah ke kamar dan menarik koper yang sejak lama sudah dia siapkan.
Vanya berjalan menuju pintu, selangkah demi selangkah. Rasanya seperti menginjak bilah pisau, menyakitkan, namun langkahnya sama sekali tidak goyah.
Di area pintu masuk, dia berhenti.
Tanpa sadar, jarinya mengusap korek api di dalam saku.
Itu adalah hadiah ulang tahun dari Kresna. Di permukaannya masih terukir tulisan yang pernah dia kira penuh kasih. "Untuk Yaya.".
Vanya tersenyum pelan.
Detik berikutnya, dia menyalakan korek itu tanpa ragu dan melemparkannya ke arah tirai.
Api menyebar, dan dengan cepat melahap ruang tamu.
Vanya berdiri di luar vila, menatap dengan tenang bagaimana kobaran api menelan sofa tempat mereka pernah bercinta, meja makan tempat mereka pernah berciuman, dan ranjang ...
Ranjang yang pernah dia kira menjadi saksi bahwa pria itu sempat memiliki sedikit rasa padanya.
Satu jam kemudian, Kresna tiba.
Mobil hitamnya mengerem mendadak di depan vila, ban berdecit menusuk telinga.
Begitu turun, yang menyambutnya hanyalah kobaran api menjulang, dan Vanya yang duduk di atas koper.
Dia menatap bangunan yang terbakar itu dengan tenang. Cahaya api memantul di wajahnya yang pucat, dengan sisa air mata masih menggantung di bulu matanya.
Dada Kresna terasa sesak.
Ada ribuan pertanyaan di kepalanya, tetapi semuanya terhenti saat melihat mata Vanya yang merah dan kosong.
"Setelah bakar rumah ... " ucapnya dengan suara rendah. "Sekarang kamu puas, Nona Besar?"
Vanya perlahan mengangkat pandangan.
Mata yang dulu dipenuhi cinta kini hanya menyisakan kehampaan total.
Dia menatap Kresna seolah menatap orang asing dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.
"Pak Kresna." Asisten Kresna berlari dengan tergesa-gesa, "Jet pribadi sudah siap. Rapat di Swess nggak bisa ditunda lagi."
Kresna menekan pelipisnya. "Urus rumah ini."
Dia berhenti sejenak, lalu melirik Vanya. "Antarkan dia ke apartemen di selatan kota."
"Nggak perlu," Vanya akhirnya berbicara, suaranya serak namun tegas. "Aku akan pulang."
Kresna mengira dia akhirnya menyerah dan kembali ke Keluarga Angkara. Kerut di dahinya mengendur. "Bagus kalau kamu sudah sadar."
Dia berbalik melangkah pergi. Mantel hitamnya berkibar diterpa angin malam. "Aku nggak selalu bisa membereskan semuanya untukmu."
Vanya berdiri di tempat, menatap sosok Kresna yang kian menjauh. Di sudut bibirnya tersungging senyum tipis yang getir.
"Kresna," bisiknya pelan, hampir larut oleh angin malam. "Kita nggak akan bertemu lagi."
"Apa?" Kresna menoleh.
Namun Vanya sudah lebih dulu membuka pintu dan naik ke taksi.
Kresna mengira itu hanya luapan emosi sesaat seperti biasanya dan tidak menanyakannya lebih jauh. Dia langsung masuk ke mobilnya sendiri.
Dia tidak menyadari bahwa dua mobil itu melaju beriringan menuju bandara.
Di area parkir pesawat pribadi, Kresna menerima berkas dari asistennya lalu naik ke pesawat tanpa menoleh sedikit pun.
Sementara itu, di dalam terminal, Vanya mentransfer biaya sewa selama setengah bulan dan biaya rumah sakit ke rekening Kresna. Setelah itu, dia membuang ponselnya ke tempat sampah, lalu melangkah tanpa ragu menuju gerbang keberangkatan ke Kota Altara.
Dua pesawat lepas landas hampir bersamaan, menuju arah yang berlawanan, dan tak akan pernah saling bersinggungan lagi.