Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 9

Vanya menatap langit-langit dengan kosong tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Entah kenapa, amarah tiba-tiba menyala di dada Kresna. Saat dia hendak bicara, seorang perawat bergegas masuk. "Pak Kresna, Nona Calia bilang tangannya sakit lagi ... " "Renungkan baik-baik," kata Kresna dingin sambil berbalik pergi. "Jangan buat masalah lagi." Hari-hari berikutnya, Vanya berubah menjadi sangat sunyi hingga terasa mengerikan. Setiap hari, Calia mengirimkan foto-foto Kresna yang merawatnya, tetapi Vanya sama sekali tidak bereaksi. Hingga hari dia keluar dari rumah sakit, Calia datang sendiri menemuinya. "Kak, kamu cuma dirawat tiga hari lalu boleh pulang," katanya sambil mengangkat tangan kanannya yang masih dibalut perban. "Tahu nggak, gara-gara satu tusukan itu, aku harus dirawat berapa lama? Kalau saja Kresna nggak menghabiskan banyak uang untuk mendatangkan dokter dari luar negeri, tanganku sudah nggak bisa dipakai lagi." "Kamu pantas mendapatkannya," jawab Vanya dingin. Calia tiba-tiba tersenyum. "Vanya, sebenarnya apa sih yang kamu banggakan? Padahal kamu segitu cintanya sama Kresna, tapi justru dia sendiri yang mengirim kamu ke tahanan. Rasanya gimana? Hancur, 'kan?" Akhirnya Vanya menoleh menatapnya. "Sebenarnya kamu mau bilang apa?" "Nggak ada. Aku cuma mau cerita sedikit." Dia duduk di tepi ranjang. "Kamu tahu nggak? Aku dan Kresna itu teman sekolah sejak SMA. Waktu itu, hampir semua siswi mengejarnya. Tapi dia nggak pernah melirik siapa pun." Jarinya menyusuri perban di tangannya, matanya berkilat penuh kemenangan. "Kecuali aku." "Dia hafal kopi kesukaanku tanpa gula, selalu membawa payung cadangan saat hujan, dan setiap acara OSIS, dia hanya mau menerima air minum dariku. Bahkan saat pidato di depan seluruh sekolah, matanya cuma tertuju padaku. Semua gadis iri setengah mati, tapi dia hanya tersenyum padaku." "Saat hubungan kami hampir melampaui batas itu ... aku mengalami kecelakaan demi menyelamatkannya. Setelah itu aku harus pergi ke luar negeri untuk berobat. Tapi selama bertahun-tahun, kami nggak pernah benar-benar putus kontak." Vanya mengepal telapak tangannya hingga nyeri. "Kemudian aku bilang ke Kresna Ibuku menikah dengan keluarga kaya, tapi di rumah itu ada seorang putri sulung yang selalu menindasnya." Dia terkekeh pelan. "Dan tahu apa yang dia lakukan? Dia langsung menelepon ayahmu." "Dia berkata apa?" Nada Calia merendah, penuh ejekan. "'Serahkan Vanya padaku. Biar aku yang mendidiknya.'" Tubuh Vanya gemetar hebat. Selama ini dia selalu mengira ayahnya yang dengan sukarela menyerahkannya pada Kresna untuk "dididik" ... "Dulu di sekolah dia selalu unggul dalam segalanya termasuk dalam mengendalikan orang," bisik Calia di dekat telinganya. "Tanpa banyak usaha, dia membuatmu jatuh cinta, bahkan menyeretmu ke ranjang." "Awalnya aku sangat marah. Tapi kemudian aku tahu, setiap kali dia tidur denganmu, dia selalu merekamnya." Calia tersenyum tipis. "Saat itu aku langsung paham maksudnya." "Bagaimanapun juga, Nona Vanya paling menjunjung harga diri. Kalau video pribadimu ada di tanganku, apa kamu masih berani menindas siapa pun?" "Kurasa alasan Kresna tidur denganmu hanyalah agar suatu hari nanti rekaman itu bisa diberikan padaku supaya aku punya senjata untuk membalas." Setelah mengatakan itu, Calia puas melihat wajah Vanya yang pucat pasi. Dia tersenyum, lalu berbalik meninggalkan kamar rawat inap. Vanya seperti tersambar petir. Seluruh darah di tubuhnya terasa membeku. Dengan pikiran kalut, dia berlari keluar dari rumah sakit, naik taksi, lalu langsung menuju kediaman Kresna. Begitu tiba di vila, dia mengubrak-abrik ruangan seperti orang kehilangan akal. Laci ruang kerja, tidak ada. Brankas kamar tidur, kosong. Hingga akhirnya, di sebuah komputer yang tersembunyi di ruang gelap, dia menemukan satu folder terenkripsi. Begitu file itu terbuka, kaki Vanya melemas. Dia jatuh berlutut ke lantai. Di layar, terpampang jelas rekaman dirinya bersama Kresna ... Adegan demi adegan, dari awal hingga akhir, tersimpan rapi dan terklasifikasi dengan sempurna.

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.