Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 5

Vanya tergeletak di genangan darah, pandangannya perlahan mengabur. Di hadapannya, dia melihat Kresna melindungi Calia dengan penuh kehati-hatian, dan dalam benaknya berkelebat potongan-potongan kenangan. Tatapan dingin di balik kacamata tipis Kresna saat mereka pertama kali bertemu ... Saat dia sengaja menaburkan garam ke dalam kopinya dan Kresna tetap meminumnya tanpa perubahan ekspresi ... Saat malam pertama ketika dia ditekan di atas meja kerja, dan rasa perih membuatnya menggigit bahu pria itu tanpa sadar. Perasaannya pada Kresna kian hari kian dalam. Sampai pada ulang tahunnya, dia mendekorasi satu vila penuh dengan harapan, namun yang datang justru kabar gosip tentang Kresna dan Calia. Dia juga teringat hari ketika dia berjalan sendirian sejauh lima kilometer menuju makam ibunya dengan mata sembab hingga sepatu hak tinggi yang dikenakannya menggesek kulit sampai tumitnya penuh lecet dan darah. Kresna-lah yang menemukannya saat itu. Tanpa banyak bicara, dia melepas sepatu hak tinggi yang penuh luka dari kaki Vanya, menenteng sepatu itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggendongnya pulang. Saat itu air mata Vanya menetes di lehernya. Dalam hati dia sempat berpikir, jika bisa berjalan seperti ini seumur hidup, rasanya tak buruk. Setelah ibunya pergi, akhirnya ada seseorang yang menuntunnya pulang lagi. Namun pada akhirnya, semua kenangan itu runtuh dan menyatu menjadi satu adegan yang paling menyakitkan yaitu Kresna yang memeluk Calia erat-erat, melindunginya sepenuh hati. ... "Bip ... bip ... bip ... " Bunyi alat medis menarik Vanya kembali ke kenyataan. Dia membuka mata perlahan, lalu mendengar suara Calia dari ranjang sebelah yang terdengar terisak dan penuh rasa bersalah. "Ini semua salahku ... seharusnya aku nggak berdiri di jalan dan bertengkar dengan Kakak. Aku cuma ingin mengantarnya pulang. Kresna, kenapa kamu malah menyelamatkanku dulu? Kalau Kakak tahu, dia pasti marah ... " Kresna mengangkat tangan dan mengusap air mata Calia dengan lembut. "Ini bukan salahmu." Nada suaranya begitu halus dan penuh perlindungan yang tak pernah sekalipun Vanya rasakan darinya. "Kalau harus terulang lagi, aku tetap akan memilih menyelamatkanmu lebih dulu," ucap Kresna lirih. "Kondisimu lemah, kamu nggak boleh terluka lagi." Dia terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan nada datar, "Lagi pula, dia nggak punya alasan untuk marah." Dada Vanya mendadak sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang mencengkeram jantungnya dan memelintirnya tanpa ampun. Benar juga, siapa dirinya bagi Kresna? Apa haknya untuk merasa sakit hati? Siapa yang ingin dia selamatkan atau abaikan, itu sepenuhnya keputusan Kresna. "Sudah, jangan menangis lagi. Pulanglah dan istirahat dengan baik." Kresna menenangkan dengan suara lembut. Dia terus membujuk dengan nada rendah dan sabar, hingga akhirnya Calia pergi. Begitu pintu ruang rawat tertutup, Kresna berbalik dan baru menyadari bahwa Vanya sudah lama terjaga dan menatapnya dalam diam. Tak ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya. Dengan ekspresi biasa, dia berkata, "Lukamu hanya luka ringan. Tapi aku tahu kamu peduli penampilan dan takut sakit, jadi aku memanggil tim medis terbaik. Nggak akan ada bekas luka." Seandainya dulu, Vanya pasti sudah menangis dan menuntut penjelasan mengapa dia memilih menyelamatkan Calia lebih dulu. Namun kali ini, dia hanya menjawab datar, "Aku mengerti. Terima kasih. Biaya pengobatan akan kukembalikan setengah bulan lagi." Alis Kresna sedikit berkerut. Dia terkejut mendengar ucapan terima kasih itu. Dan entah kenapa, kata "setengah bulan" yang terus diulang Vanya membuatnya merasa ada sesuatu yang janggal. Namun Kresna tidak menanyakannya lebih jauh. Dia hanya mengira itu sekadar sikap manja khas Vanya atau sindiran halus karena sedang kesal. ... Beberapa hari berikutnya, Kresna justru menunda seluruh pekerjaannya dan tinggal di rumah sakit untuk menemaninya. Anehnya, Vanya tak lagi bersikap seperti biasanya. Dia tidak menempel pada Kresna, tidak mencari perhatian, tidak membuat keributan. Dia menjalani perawatan dengan tenang, makan dan tidur tanpa banyak bicara. Ketenangan itu justru membuat dada Kresna terasa sesak. Saat menemani Vanya disuntik, Kresna akhirnya angkat bicara, "Masih marah?" "Marah soal apa?" "Karena hari itu aku nggak menolongmu." Kresna berhenti sejenak. "Aku menyelamatkan Calia memang ada alasannya. Aku dan dia ... " Ucapannya belum sempat selesai ketika keributan tiba-tiba terdengar dari lorong. "Ada apa?" Seorang perawat kecil berlari tergesa-gesa. "Katanya anak tiri direktur Grup Angkara jatuh dari tangga," perawat lain berbisik pelan. "Dia baru dibawa ke IGD. Ayahnya sampai pucat, bahkan menggendongnya sendiri. Benar-benar langka ada seorang ayah yang bisa sebaik itu pada anak tiri ... " Vanya mengangkat pandangannya ke arah Kresna. Seperti yang diduganya, raut wajah Kresna langsung berubah. "Ada urusan yang harus kutangani," katanya sambil berdiri, gerakannya jauh lebih terburu-buru dari biasanya. "Nanti aku kembali lagi." Vanya menatap sosok Kresna yang menjauh dengan langkah cepat. Tanpa perlu berpikir, dia tahu persis ke mana Kresna pergi. Dia menutup mata dengan lelah, hatinya terasa hampa.

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.