Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 6

Saat terbangun lagi, Vanya tersadar karena suara perawat. "Kenapa nggak ada yang menjaga? Darahnya sudah naik ke selang infus! Hampir saja terjadi hal serius!" perawat itu menegur dengan cemas. Vanya mengangkat tangannya sedikit dan baru menyadari punggung tangannya membengkak parah. Dia mengambil ponselnya dan baru menyadari sudah tujuh jam berlalu. Dan Kresna tidak pernah kembali. "Nona, ke mana pacarmu yang tampan itu?" tanya perawat sambil mengganti infus. "Waktu diinfus harus ada yang menemani. Tadi itu benar-benar berbahaya." Vanya tersenyum tipis. "Dia bukan pacarku." Dia berjalan sendirian menyusuri koridor sambil menopang dinding. Namun bisik-bisik di sekeliling terasa seperti jarum yang menusuk telinganya. "Nona Calia itu benar-benar beruntung. Ayah tirinya begitu menyayanginya, pacarnya juga tampan luar biasa!" "Kudengar pacarnya sampai memborong satu lantai VIP dan mendatangkan dokter spesialis dari luar negeri. Dia juga sudah seharian penuh menemaninya tanpa pergi sedikit pun. Ayah tiri dan pacarnya sama-sama memanjakannya ... Nona Calia pasti berjasa besar di kehidupan sebelumnya." Tanpa sadar, langkah Vanya berhenti di depan sebuah kamar rawat. Lewat celah pintu yang setengah terbuka, dia melihat Kresna dengan hati-hati mengatur kecepatan infus Calia. Jari-jarinya yang panjang memutar pengatur dengan lembut. Di sisi lain ranjang, ayahnya duduk sambil mengupas apel. Kulitnya terkelupas panjang tanpa putus, lalu potongan buah itu disuapkan satu per satu ke mulut Calia. Vanya tiba-tiba merasa dadanya sesak. Air mata jatuh tanpa peringatan, terasa panas hingga membuat pipinya perih. Dia mengangkat tangan dan menghapusnya dengan kasar. "Vanya," bisiknya pada lorong yang kosong, "Untuk siapa kamu menangis? Nggak ada yang akan mengasihanimu. Jangan menangis." Saat berbalik, dia menegakkan punggungnya dan berjalan dengan cepat dan mantap. Hanya telapak tangannya yang terkepal erat, menyisakan noda darah tipis di antara jemari. Beberapa hari berikutnya, Kresna tak pernah muncul lagi. Baru pada hari kepulangannya dari rumah sakit, Vanya kembali melihat Maybach hitam yang begitu dikenalnya terparkir di depan gerbang. Kaca jendela terbuka, menampakkan wajah samping Kresna yang tegas. "Masuk," ucapnya dingin seperti biasa. Vanya langsung berbalik hendak pergi. "Kamu ingin aku menggendongmu naik di depan semua orang?" Kalimat itu membuat langkah Vanya terhenti mendadak. Dia tak percaya Kresna masih berani mengatakan hal semacam itu. Dulu, ancaman seperti ini sering dia anggap sekadar permainan saat Kresna "mendidiknya". Tapi sekarang, saat Calia sudah kembali, apa hak Kresna memperlakukannya seperti itu lagi? Dengan rahang mengeras, Vanya akhirnya masuk ke dalam mobil. Kresna menyerahkan sebuah katalog lelang. "Kamu kelihatan murung akhir-akhir ini. Bukankah dulu kamu paling suka belanja? Hari ini aku akan membawamu ke acara lelang." Vanya hendak menolak, namun saat membalik ke salah satu halaman, matanya seketika terbelalak. Itu adalah kalung mutiara milik ibunya. Sejak Yuna pindah ke rumahnya dan sering bermimpi buruk, ayahnya memerintahkan agar semua peninggalan sang ibu disingkirkan. Vanya pernah memohon dengan putus asa, namun yang dia dapatkan hanyalah jawaban dingin, "Menyimpan barang-barang orang yang sudah mati hanya membawa sial." Tak pernah dia bayangkan, kalung yang paling dicintai ibunya itu akan muncul kembali di tempat seperti ini. Vanya mencengkeram katalog itu erat-erat hingga kertasnya kusut di telapak tangannya. Dengan jari gemetar, dia mengeluarkan ponsel dan cepat-cepat mengirim pesan pada pengacara pribadinya. [Segera jual semua maskawin di brankas bank atas namaku!] Demi kalung itu, dia rela menikah tanpa membawa maskawin dan menjadi bahan ejekan orang lain. Aula lelang tampak berkilauan, mewah dan menyilaukan. Saat Vanya mengikuti Kresna masuk ke area VIP, matanya langsung menangkap sosok Calia yang sudah duduk di kursi khusus. Gaun putih membalut tubuh Calia, senyum manis terulas di wajahnya. "Kakak!" Calia merangkul lengan Vanya dengan akrab. "Aku bilang pada Kresna ingin minta maaf padamu di pelelangan. Nggak kusangka dia benar-benar membawamu ke sini." Dia berkedip polos. "Hubungan kalian kelihatannya sangat baik." Tubuh Vanya menegang seketika. Dia menoleh perlahan ke arah Kresna. Pria itu sedang menunduk meneliti daftar lelang, wajah sampingnya tampak sempurna di bawah cahaya lampu. Namun dia tidak melirik Vanya sedikit pun. Begitu rupanya. Dia dibawa ke sini bukan karena Kresna menyadari suasana hatinya yang sedang buruk, apalagi untuk menghiburnya. Ini semua semata-mata karena Calia ingin "meminta maaf", dan dirinya dibawa serta sebagai pelengkap yang kebetulan ada. Anehnya, rasa sakit yang Vanya bayangkan justru tidak datang. Yang ada hanya kehampaan di dadanya, seolah ada bagian dari dirinya yang telah diambil paksa, namun darah pun tak lagi tersisa untuk mengalir.

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.